Suaradermayu.com – Kisah tragis menimpa Marini (38), seorang TKW Indramayu yang kini koma di Taiwan akibat kecelakaan kerja. Marini berasal dari Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sejak 17 hari lalu, ia terbaring di rumah sakit dalam kondisi kritis usai terpeleset di kamar mandi tempat kerjanya.
Baca Juga : Butuh Rp 40 Miliar untuk Bebaskan TKW Susanti dari Hukuman Mati di Arab Saudi
Kejadian nahas itu terjadi secara tiba-tiba. Marini yang tengah membersihkan lantai kamar mandi mendadak terpeleset dan jatuh. Bagian belakang kepalanya membentur lantai keras hingga menyebabkan dirinya kehilangan kesadaran. Majikannya segera membawa Marini ke rumah sakit setempat dan pihak medis menyatakan kondisinya kritis.
Kecelakaan tersebut berdampak fatal. Dokter menyebutkan bahwa Marini mengalami pendarahan otak dan harus segera menjalani operasi penyelamatan. Dalam dua pekan terakhir, Marini sudah menjalani dua kali operasi besar, namun kondisinya masih belum stabil.
Baca Juga : Terbesar di Indonesia, 25 Ribu Warga Indramayu Jadi TKW dan TKI
“Sudah 17 hari dia belum siuman. Dokter bilang kemungkinan masih butuh perawatan panjang. Saya hanya bisa pasrah dan terus berdoa,” tutur Mujahid (40), suami Marini, saat diwawancarai via sambungan telepon, Selasa (3/6/2025).
Mujahid mengaku sudah menjual sebagian besar aset keluarga untuk membiayai pengobatan istrinya. Operasi lanjutan yang dibutuhkan memerlukan biaya sebesar Rp25 juta, dan ia terpaksa menjual sebidang tanah milik keluarga untuk menutupi tagihan tersebut.
Baca Juga : Wanita Asal Indramayu Lolos dari Jebakan Pengantin Pesanan di China, Begini Kisah Pelariannya
Dengan suara parau, Mujahid menyampaikan permohonan terbuka kepada para pemimpin negeri. Ia berharap pemerintah Indonesia, baik pusat maupun daerah, bisa segera membantu istrinya yang sedang berjuang antara hidup dan mati di negeri orang.
“Pak Presiden Prabowo, Pak Gubernur Dedi Mulyadi, Pak Bupati Lucky Hakim, tolong bantu istri saya. Kami sudah kehabisan biaya. Saya tidak tahu lagi harus minta tolong ke siapa,” kata Mujahid.
Satu-satunya aset yang tersisa saat ini adalah rumah tempat tinggal mereka di Desa Tinumpuk. Bila tidak ada bantuan, Mujahid mengaku siap menjual rumah tersebut demi kesembuhan istrinya.
“Kalau pun harus dijual (rumah), mau bagaimana lagi. Yang penting istri saya sembuh,” ujarnya dengan tegas.
Kasus TKW Indramayu koma di Taiwan ini mencerminkan betapa rentannya posisi para pekerja migran Indonesia (PMI) di luar negeri, terutama ketika mereka menghadapi musibah. Tidak hanya menderita secara fisik, mereka dan keluarganya juga harus menanggung beban finansial yang berat.
Aktivis perlindungan pekerja migran, Didi Rosyadi, menyebut bahwa pemerintah Indonesia memiliki tanggung jawab besar dalam perlindungan warganya di luar negeri.
Baca Juga : Innalillahi! Janazah TKW Asal Indramayu yang Meninggal di Malaysia Tiba ke Tanah Air
“Negara wajib hadir dalam setiap krisis warganya, apalagi menyangkut nyawa. Kasus seperti Marini tidak boleh dibiarkan,” ujarnya.
Menurut Didi, konsulat jenderal Republik Indonesia di Taiwan harus segera melakukan langkah-langkah pendampingan. Selain aspek medis, pendampingan hukum juga perlu dilakukan bila ternyata ada unsur kelalaian dalam kecelakaan yang menimpa Marini.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan Marini bisa pulih atau dipulangkan ke tanah air. Dokter menyatakan bahwa proses pemulihan masih panjang dan membutuhkan biaya besar. Sementara itu, Mujahid hanya bisa menunggu sambil mengandalkan bantuan dari kerabat dan donatur.
“Saya terus komunikasi dengan teman-teman di Taiwan, tapi tidak bisa berbuat banyak. Semuanya serba terbatas. Tolong bantu kami, sampaikan ke pemerintah,” ungkap Mujahid.
Kepala Desa Tinumpuk, Aripin, juga telah mengirimkan surat permohonan bantuan kepada Dinas Tenaga Kerja Indramayu dan instansi terkait. Ia berharap pemerintah tidak tinggal diam melihat warganya menderita di luar negeri.
“Kami sudah kirim laporan resmi ke dinas dan BP2MI. Kami berharap perhatian khusus dari pemerintah pusat untuk segera membantu ibu Marini,” katanya.
Kisah TKW Indramayu koma di Taiwan ini harus membuka mata semua pihak bahwa pekerja migran bukan sekadar tenaga kerja, melainkan pahlawan devisa yang telah berjasa besar untuk negeri ini. Setiap tahun, kontribusi mereka terhadap perekonomian nasional mencapai triliunan rupiah. Namun, saat mereka mengalami kesusahan, masih banyak yang terabaikan.
Sudah saatnya negara memperkuat sistem perlindungan menyeluruh, mulai dari pelatihan sebelum keberangkatan, asuransi kesehatan yang benar-benar efektif, hingga pendampingan selama bekerja dan pasca-kejadian darurat.
Melalui media ini, redaksi Suaradermayu.com juga mengajak para pembaca, komunitas, dan lembaga sosial untuk ikut membantu Marini. Sebuah gerakan solidaritas kecil bisa menjadi cahaya besar bagi keluarga yang tengah berjuang.
Bagi Anda yang ingin menyalurkan bantuan, bisa menghubungi redaksi kami atau langsung ke keluarga Mujahid di Desa Tinumpuk. Mari bersama-sama ringankan beban sesama.
Baca Juga : Polres Indramayu Tangkap 3 Pelaku Perdagangan TKW ke Timur Tengah
Kisah Marini bukan satu-satunya. Banyak TKW asal Indonesia yang mengalami musibah serupa, namun tidak mendapat sorotan media dan perhatian pemerintah. Tragedi ini seharusnya menjadi momentum bagi negara untuk memperbaiki sistem perlindungan pekerja migran secara menyeluruh.
TKW Indramayu koma di Taiwan adalah potret kepedihan yang nyata dan mengetuk hati kita semua. Semoga pemerintah bergerak cepat, dan semoga Marini segera sembuh dan bisa kembali ke pangkuan keluarganya di tanah air.

























