Suaradermayu.com – Bupati Indramayu, Lucky Hakim, masuk dalam lima besar kepala daerah dengan kinerja terbaik secara nasional versi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Capaian ini menempatkan Indramayu di peringkat kelima dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia.
Penilaian tersebut diberikan dalam rangka peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30, melalui mekanisme Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD). Sistem ini mengukur kinerja pemerintah daerah berdasarkan indikator yang mencakup tata kelola, pelayanan publik, hingga inovasi daerah.
Masuknya Indramayu dalam daftar lima besar tentu menjadi catatan positif. Namun, di saat yang sama, publik juga menanti sejauh mana capaian tersebut benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Menanggapi penghargaan itu, Lucky Hakim menegaskan bahwa capaian tersebut bukanlah hasil kerja individu. Ia menyebut keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh unsur pemerintahan dan dukungan masyarakat.
“Ini bukan capaian pribadi. Ini kerja keras seluruh perangkat daerah,
Forkopimda, DPRD, dan tentu masyarakat Indramayu,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, menyatakan penilaian tersebut didasarkan pada indikator terukur dalam EPPD. Indramayu dinilai unggul dalam sejumlah aspek kinerja pemerintahan dibandingkan ratusan daerah lainnya.
Meski demikian, Lucky mengingatkan agar penghargaan tersebut tidak disikapi secara berlebihan. Ia menegaskan, capaian ini harus menjadi dorongan untuk memperbaiki pelayanan publik, bukan sekadar kebanggaan administratif.
“Kami akan terus meningkatkan pelayanan dan transparansi, memastikan program benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada DPRD, Forkopimda, dan masyarakat yang dinilai memiliki peran penting dalam capaian tersebut.
Menurutnya, keberhasilan pemerintah daerah tidak bisa dilepaskan dari sinergi dan kepercayaan publik.
“Penghargaan ini ada karena dukungan DPRD dan doa masyarakat. Kami hanya menjalankan amanah,” ucapnya.
Di balik capaian ini, tantangan ke depan tidak ringan. Konsistensi kinerja, transparansi anggaran, hingga dampak nyata program di tengah masyarakat akan menjadi ukuran sesungguhnya.
Publik kini menunggu, apakah predikat lima besar ini benar-benar sejalan dengan realitas yang dirasakan warga di lapangan, atau hanya berhenti pada angka-angka evaluasi. (Nadzif)

























