Suaradermayu.com – Ruas Jalan Terisi-Cikedung, Kabupaten Indramayu, kini tak sekadar berfungsi sebagai jalur penghubung antar kecamatan. Jalan tersebut berubah menjadi cermin persoalan persampahan yang belum juga tertangani secara tuntas.
Di satu sisi, hamparan sawah membentang hijau. Namun di sisi lain, tumpukan sampah domestik mengular dan meluber hingga memakan bahu jalan.
Limbah plastik, sisa rumah tangga, hingga potongan kain menumpuk di balik tembok bercat biru yang tampak tak lagi mampu menahan volume sampah. Bau menyengat pun menyeruak, menjadi keluhan harian bagi warga dan pengendara yang melintas.
Baca Juga : Viral! Kritik Sampah di Facebook Berujung Surat Pernyataan Bermaterai di Karangampel Indramayu
Kondisi ini memantik sorotan publik terhadap kinerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Indramayu, terutama dalam pengawasan dan pemerataan layanan pengangkutan sampah.
Warga Mengeluh, Jalan Utama Terasa Terabaikan
Bagi warga sekitar, persoalan sampah di jalur Terisi–Cikedung bukan hal baru. Namun yang disayangkan, tumpukan sampah kerap dibiarkan berhari-hari tanpa penanganan berarti.
Baca Juga : Tumpukan Sampah di Pantai Dadap Indramayu, Ganggu Aktivitas Nelayan dan Keindahan Pantai
Abdullah (42), warga yang hampir setiap hari melintasi jalur tersebut untuk bekerja, mengaku kondisi itu sudah mengganggu kenyamanan dan keselamatan.
“Kalau lewat sini pasti tutup hidung. Kalau hujan, air dari tumpukan sampah mengalir ke jalan, bikin licin dan baunya makin parah. Padahal ini jalan utama antar kecamatan,” ujarnya.
Menurut Abdullah, dampak lingkungan mulai terasa nyata. Lalat bermunculan, sementara sampah kerap beterbangan ke badan jalan saat angin kencang.
Baca Juga : Mayat Ditemukan Membusuk di Areal Tumpukan Sampah di Indramayu
“Anak-anak juga sering lewat sini. Kami khawatir kalau dibiarkan terus, bisa berdampak ke kesehatan,” tambahnya.
Armada Terbatas, Distribusi Layanan Tersendat
DLH Indramayu mengakui keterbatasan sarana sebagai salah satu kendala utama. Kepala Bidang Persampahan DLH Indramayu, Endi Wahyadi, menyebutkan bahwa saat ini hanya terdapat 56 unit truk pengangkut sampah yang aktif.
Armada tersebut harus melayani 309 desa dan 8 kelurahan yang tersebar di enam wilayah UPTD kebersihan, yakni Indramayu, Karangampel, Jatibarang, Losarang, Kandanghaur, dan Hargeulis. Rasio ini membuat satu unit truk harus melayani hampir enam desa sekaligus.
“Jumlah armada memang masih kurang jika dibandingkan dengan luas wilayah dan jumlah desa yang harus dilayani,” kata Endi.
Baca juga : PDAM Tirta Darma Ayu Dinilai Jadi “Tong Sampah” Manajemen, Oo Kritik Transparansi Pemerintah Indramayu
Namun di tingkat warga, keterbatasan armada dinilai tak sepenuhnya bisa dijadikan pembenaran. Minimnya pengawasan dan penentuan prioritas membuat sejumlah titik, termasuk jalur Terisi–Cikedung, seolah terpinggirkan dari perhatian rutin.
Persoalan Lama yang Terus Berulang
Gunungan sampah di jalur ini menjadi gambaran nyata bahwa persoalan persampahan di Indramayu belum tersentuh solusi menyeluruh. Produksi sampah terus meningkat, sementara kapasitas pengangkutan dan sistem pengawasan berjalan tertatih.
Tanpa pembenahan serius—mulai dari penambahan armada, penataan titik buang, hingga pengawasan lapangan yang konsisten—jalur antar kecamatan seperti Terisi–Cikedung berpotensi terus menjadi korban dari tata kelola persampahan yang belum beres. (Mashadi)


























