Suaradermayu.com – Bupati Indramayu, Lucky Hakim, mengingatkan masyarakat agar tidak lagi melakukan eksploitasi berlebihan terhadap predator alami hama tikus. Ia menilai, praktik penangkapan hewan-hewan tersebut justru memperparah serangan tikus yang merugikan petani.
Menurut Lucky, populasi ular, burung hantu, hingga biawak di alam terus berkurang karena diburu untuk kepentingan komersial. Ular, misalnya, ditangkap untuk diambil kulit dan dagingnya yang kemudian diolah menjadi abon. Sementara burung hantu banyak ditembak, dan biawak sering dijadikan sate.
“Karena predator alami dieksploitasi berlebihan, populasi tikus makin merajalela. Ini yang harus dihentikan,” tegas Lucky.
Ia menambahkan, praktik perburuan itu tidak hanya dilakukan warga lokal, tetapi juga banyak penangkap dari luar daerah. Bahkan, di beberapa daerah sekitar seperti Cirebon, terdapat pengepul yang menampung ular hasil tangkapan dari kawasan Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan).
Lucky Hakim menilai, jika kebiasaan ini dibiarkan, keseimbangan ekosistem sawah akan semakin terganggu. Padahal, keberadaan predator alami sangat penting untuk menjaga rantai makanan di alam agar hama tikus bisa terkendali secara alami.
“Kalau predatornya hilang, tikus tidak ada lagi yang memangsa. Itu sebabnya mereka makin banyak di sawah,” ujar dia.
Melalui program “Ular Sahabat Tani”, Lucky berupaya mengembalikan keseimbangan ekosistem dengan melepas kembali predator alami ke sawah. Ia berharap, langkah itu bisa membantu petani mengurangi kerugian akibat hama tikus sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

























