Home / Kesehatan / Indramayu

Rabu, 11 Februari 2026 - 06:07 WIB

BPJS PBI Dicoret Massal, 84 Ribu Warga Indramayu Tiba-tiba Nonaktif

Kolase: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu dr. Wawan Ridwan (kiri) dan ilustrasi kartu BPJS PBI

Kolase: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu dr. Wawan Ridwan (kiri) dan ilustrasi kartu BPJS PBI

Suaradermayu.com – Puluhan ribu warga Kabupaten Indramayu mendadak kehilangan status kepesertaan BPJS PBI. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Indramayu, sedikitnya 84 ribu warga yang sebelumnya tercatat sebagai penerima bantuan iuran kini dinyatakan nonaktif akibat pembaruan data nasional.

Kepala Dinkes Indramayu, Wawan Ridwan, mengungkapkan bahwa selama ini jumlah peserta BPJS PBI yang bersumber dari bantuan pemerintah pusat di Indramayu mencapai sekitar 1,1 juta jiwa. Namun, proses penyesuaian data berbasis tingkat kesejahteraan berdampak pada pencoretan kepesertaan secara besar-besaran.

“Penonaktifan ini terjadi serentak secara nasional. Di Indramayu sendiri, jumlah warga yang terdampak pada periode ini mencapai sekitar 84 ribu orang,” kata Wawan, Selasa (10/2/2026).

Ia menjelaskan, kebijakan tersebut mengacu pada klasifikasi Data Desil, di mana bantuan BPJS PBI hanya diberikan kepada masyarakat yang berada pada Desil 1 hingga Desil 5 atau kelompok miskin dan rentan. Sementara warga yang masuk Desil 6 ke atas dikategorikan mampu dan tidak lagi berhak menerima bantuan.

Baca juga  Gus Ipul dan Bupati Indramayu Bahas Proyek Kampung Nelayan Sejahtera

Namun di lapangan, Dinkes Indramayu menemukan adanya persoalan. Sejumlah warga yang sejatinya masih berada di kategori miskin dan rentan justru ikut tercoret dan mendapati status kepesertaannya mendadak tidak aktif.

Menghadapi kondisi itu, Dinkes Indramayu menegaskan bahwa pelayanan kesehatan, terutama bagi pasien dengan kondisi kegawatdaruratan, tidak boleh terhenti. Rumah sakit dan puskesmas diminta tetap memberikan layanan bagi pasien dengan penyakit prioritas, seperti kanker, jantung, stroke, serta gangguan urologi, meskipun kepesertaan BPJS PBI pasien bersangkutan bermasalah.

“Yang kami jaga sekarang adalah jangan sampai ada pasien darurat yang terlantar hanya karena status BPJS-nya nonaktif,” tegas Wawan.

Baca juga  Dedi Mulyadi Tawarkan Pilihan ke Sekolah Swasta : Bantuan 600 M Dihentikan atau Serahkan Ijazah 

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Indramayu menyiapkan dua skema penanganan.

Pertama, pengalihan kepesertaan ke PBPU Pemda yang iurannya ditanggung melalui APBD.

Kedua, reaktivasi BPJS PBI bagi warga yang dinilai masih memenuhi syarat sebagai penerima bantuan. Proses tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Sosial serta melibatkan fasilitas kesehatan.

Selain itu, Dinkes juga mulai mendorong warga yang telah masuk kategori mampu untuk beralih ke kepesertaan BPJS mandiri. Edukasi dilakukan secara bertahap meski diakui tidak mudah.

“Selama ini mereka terbiasa menerima bantuan. Tapi ke depan, warga yang sudah mampu harus beralih ke mandiri,” ujarnya.

Di sisi lain, Wawan tidak menampik bahwa pengalihan peserta BPJS PBI ke skema PBPU Pemda berpotensi menambah beban anggaran daerah. Secara regulasi, kuota PBPU Pemda diwajibkan sekitar 20 persen dari total penduduk. Dengan estimasi penduduk Indramayu mencapai 2 juta jiwa, kuota ideal berada di kisaran 400 ribu jiwa.

Baca juga  Kapan Pilwu Serentak Indramayu Digelar? Bupati Lucky Hakim : Insya Allah, Tetap 10 Desember 2025

Namun hingga akhir Januari 2026, jumlah peserta PBPU Pemda di Indramayu tercatat sudah mencapai sekitar 520 ribu jiwa, melampaui batas ideal.

“Kondisi ini jelas membebani APBD. Karena itu kami harus lebih selektif menggunakan data kesejahteraan agar bantuan tepat sasaran,” jelasnya.

Untuk mencegah penerima bantuan ganda, Dinkes Indramayu juga berencana melakukan verifikasi ulang kepesertaan PBPU Pemda. Potensi bantuan ganda dinilai cukup besar, terutama pada keluarga penerima bantuan yang anggota keluarganya kini telah bekerja dan mendapatkan jaminan kesehatan dari perusahaan.

Dinkes pun akan melibatkan pemerintah desa dalam proses pemutakhiran data agar penyaluran bantuan kesehatan benar-benar sesuai kondisi riil masyarakat.

“Desa paling tahu kondisi warganya. Dengan kolaborasi ini, kami harap tidak ada lagi warga yang seharusnya dibantu justru terlewat,” pungkas Wawan. (Mashadi)

Share :

Baca Juga

Indramayu

Pengosongan Kantor PDIP Indramayu Tuai Perlawanan, Ono Surono: Ini Kebijakan Diskriminatif

Indramayu

Warga di Indramayu Bongkar Paksa Gubuk Jadi Tempat Transaksi Narkoba

Ekonomi

Tak Disangka! Kunjungan Bupati Lucky ke Jakarta Bawa Angin Segar untuk Petani dan UMKM Indramayu

Indramayu

Polisi Sebut Ada Bekas Kekerasan di Mayat Pria di Areal Pesawahan Indramayu

Indramayu

Bupati Indramayu, Nina Agustina, Pamit di Akhir Masa Jabatan: “Setiap Pertemuan Pasti Ada Perpisahan”

Indramayu

Setelah Lima Tahun Depresi, Nurlaela PMI Indramayu Kini Ditangani BP3MI Jabar

Indramayu

Bupati Lucky Hakim Tak Becus Kelola Uang Rakyat: Sewa Kendaraan Para Pejabat Capai Rp10,11 Miliar, Rakyat Menjerit Rakyat Diabaikan

Indramayu

Kirab dan Karnaval Budaya Ramaikan Hari Jadi ke-495 Indramayu, Ribuan Warga Tumpah Ruah di Jalan