Suaradermayu.com – Kasus penemuan mayat seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) bernama Iwan Boedi Prasetijo Paulus (51) di kawasan Marina, Kota Semarang, Jawa Tengah, menyita perhatian publik. Iwan ditemukan dalam kondisi mengenaskan, tubuhnya hangus terbakar tanpa kepala, serta sejumlah bagian tubuh hilang.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis (8/9/2022) lalu. Di lokasi kejadian, polisi menemukan monogram PNS dan name tag bertuliskan “Iwan Budi P”, serta pelat nomor kendaraan dinas berwarna merah H 9799 RH.
“Ada kemungkinan korban dibunuh terlebih dahulu sebelum dimutilasi dan dibakar,” ungkap Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Iqbal Alqudusy, seperti dilansir detik.com pada Jumat (9/9/2022).
Lebih lanjut, Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Irwan Anwar menjelaskan, pihaknya menemukan sepeda motor Yamaha Mio milik korban dalam kondisi terbakar tak jauh dari lokasi penemuan mayat.
Tak berhenti di situ, proses penyisiran oleh petugas gabungan pada Rabu (14/9/2022) kembali mengungkap potongan tubuh korban lainnya.
“Petugas gabungan melakukan penyisiran, dan kami temukan tangan, lengan kiri, lengan kanan, serta tungkai kanan korban,” jelas Irwan.
Selain potongan tubuh, polisi juga menemukan barang bukti berupa sebilah pisau yang diduga kuat digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa korban.
“Pisau tersebut ditemukan di sekitar lokasi penemuan mayat,” tambahnya.
Kasus tewasnya Iwan Boedi kian menjadi sorotan setelah terungkap bahwa ia seharusnya menjalani pemeriksaan sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pada hari terakhir ia terlihat.
Iwan diketahui terakhir kali meninggalkan rumah pada Rabu (24/8/2022) pagi untuk berangkat kerja. Namun, ia tidak pernah kembali hingga akhirnya pihak keluarga melapor ke kepolisian.
Pada hari itu pula, Iwan dijadwalkan menjalani pemeriksaan perdana terkait kasus dugaan korupsi dana hibah lahan milik Perumahan Bukit Semarang Baru (BSB) di Kecamatan Mijen, Kota Semarang.
Kasus korupsi ini ditangani oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Tengah. Kasus tersebut bermula sejak tahun 2010, saat ada alokasi anggaran untuk proses penyerahan sarana dan prasarana umum dari Perumahan BSB kepada Pemerintah Kota Semarang.
“Anggarannya dalam kasus itu kalau tidak salah sekitar Rp 3 miliar, dan yang digunakan baru sekitar Rp 300-400 juta untuk tim pengurusan dan sebagainya,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Iswar Aminudin.
Hingga kini, pihak kepolisian masih terus menyelidiki kasus kematian tragis Iwan Boedi, termasuk kaitannya dengan kasus korupsi yang menyeret namanya sebagai saksi.
Kasus ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga memunculkan desakan publik agar penegak hukum mengusut tuntas siapa dalang di balik pembunuhan sadis tersebut.
























