Suaradermayu.com – Aksi tak biasa dilakukan Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI) dengan mendatangi Pendopo Indramayu sambil membawa tiga karung berisi uang koin, Senin (6/4/2026).
Kedatangan mereka merupakan bentuk tanggung jawab atas kerusakan fasilitas umum yang terjadi setelah aksi unjuk rasa yang sempat berujung ricu.
Koin yang dibawa didominasi pecahan kecil, mulai dari Rp500 hingga Rp1.000. Uang tersebut merupakan hasil urunan masyarakat pesisir yang dihimpun secara swadaya.
Koordinator Umum KOMPI, Hatta, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak menghitung secara rinci jumlah uang yang terkumpul karena sebagian besar berupa koin dalam jumlah besar.
“Karena bentuknya recehan dan jumlahnya banyak, kami tidak hitung satu per satu. Kami serahkan saja, nanti bisa dihitung. Kalau dirasa kurang, kami siap menambah,” katanya.
Ia menekankan bahwa langkah tersebut bukanlah bentuk sindiran, melainkan wujud kesadaran kolektif masyarakat untuk ikut bertanggung jawab atas dampak aksi sebelumnya.
“Ini murni dari masyarakat kecil. Mereka memberi sesuai kemampuan, kebanyakan memang uang receh,” ujarnya.
Di sisi lain, Bupati Indramayu, Lucky Hakim, memilih untuk tidak menerima uang tersebut. Ia menilai penerimaan uang secara langsung berpotensi melanggar ketentuan hukum.
“Kalau saya terima, itu bisa dikategorikan sebagai gratifikasi,” tegas Lucky.
Menurutnya, setiap pemasukan ke pemerintah daerah harus melalui jalur resmi, seperti pajak, retribusi, atau hibah yang tercatat dalam sistem anggaran daerah.
Ia juga meluruskan bahwa yang diharapkan dari masyarakat adalah pemulihan fasilitas yang rusak, bukan penggantian dalam bentuk uang tunai.
“Kalau ingin bertanggung jawab, sebaiknya fasilitas yang rusak diperbaiki seperti semula,” jelasnya.
Setelah penolakan tersebut, massa akhirnya menumpahkan isi karung berisi koin di depan pintu masuk pendopo. Tak lama berselang, mereka membubarkan diri secara tertib. (Waryadi)


























