Suaradermayu.com – Meski pemilihan Kuwu Desa Singaraja baru akan digelar pada 10 Desember 2025, suasana politik desa sudah mulai terasa panas. Di setiap sudut desa, dari persimpangan jalan, jalan desa, hingga tepi sawah, baliho dan spanduk para bakal calon Kuwu—baik yang besar maupun kecil—sudah terpampang jelas.
Wajah, nama, dan slogan para bakal calon menghiasi desa, seolah memanggil perhatian masyarakat untuk bersiap menyambut kontestasi yang semakin dekat.
Namun di balik gemerlap baliho tersebut, ada fakta yang membuat persaingan menjadi semakin tegang: dari enam bakal calon, satu bakal calon harus gugur dalam proses seleksi.
Sesuai aturan, maksimal calon yang bisa bertarung dalam pemilihan adalah lima. Artinya, salah satu bakal calon tidak akan lolos ke tahap pemilihan, meski namanya sudah menghiasi hampir seluruh sudut desa.
Ketua Panitia Pemilihan Kuwu Desa Singaraja, H. Fahmi Labib, menegaskan bahwa seleksi akan dilakukan oleh Panitia dari Pemerintah Kabupaten Indramayu, untuk memastikan proses adil, transparan, dan objektif.
“Verifikasi dan klarifikasi berkas bakal calon akan dilakukan tanggal 12-13 November. Selanjutnya, tanggal 14-18 November, panitia akan menyeleksi enam bakal calon menjadi lima, agar pemilihan bisa berjalan sesuai aturan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fahmi Labib menyampaikan bahwa seleksi akan dilakukan dalam dua tahap. Seleksi administrasi berbobot 40 persen, mencakup pendidikan, usia, dan pengalaman calon di bidang pemerintahan. Sementara seleksi akademis berbobot 60 persen, meliputi tes tertulis dan wawancara.
“Tujuannya agar bakal calon yang lolos benar-benar kompeten, mampu memimpin, dan prosesnya berjalan adil dan transparan,” tambahnya.
Suasana ini menambah ketegangan di antara para bakal calon. Baliho yang terpampang di depan rumah mereka, di jalan utama, dan di setiap persimpangan seakan menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan dan persaingan semakin nyata.
Setiap bakal calon menyadari, satu langkah kecil saja bisa menentukan siapa yang akan melangkah maju dan siapa yang harus berhenti sebelum pemilihan.
Optimisme, kesiapan, dan ketegangan tercampur dalam setiap persiapan bakal calon. Juhaedi mengaku telah mempersiapkan diri jauh sebelum tahapan seleksi dimulai.
“Meski seleksi masih dua minggu lagi, saya sudah menyiapkan semua persyaratan dan materi. Saya optimis bisa lolos seleksi, tapi tentu saya juga memohon doa dari seluruh masyarakat agar prosesnya berjalan lancar,” ujarnya.
Ia menambahkan dengan nada rendah hati, “Jika nantinya ditakdirkan saya tidak lolos, saya legowo dan akan tetap mendukung bakal calon yang terpilih demi kemajuan Desa Singaraja.”
Begitu pula dengan Jamaludin, yang menyambut tahapan seleksi dengan semangat riang dan gembira.
“Saya siap mengikuti semua tahapan Pilwu dengan penuh semangat. Ini kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan dedikasi saya bagi desa,” ujarnya. Meski optimis, Jamaludin tetap rendah hati.
“Jika panitia seleksi tidak meloloskan saya, saya siap menerima hasilnya. Yang terpenting, proses seleksi berlangsung adil, transparan, dan lima bakal calon yang terpilih nanti benar-benar mampu mengabdi bagi Desa Singaraja,” tambahnya.
Hendi Mulyadi juga menegaskan kesiapan dan optimisme tinggi. “Saya siap mengikuti semua tahapan seleksi dengan sungguh-sungguh. Optimis saya bisa lolos, karena saya sudah menyiapkan diri sebaik mungkin—baik administrasi maupun materi akademis,” ujarnya.
Ia berharap panitia menilai setiap bakal calon secara objektif dan transparan. “Kalau ternyata takdir menentukan saya tidak lolos, saya akan legowo menerima keputusan panitia. Yang terpenting adalah proses seleksi berlangsung jujur dan setiap calon diberi kesempatan yang sama,” tambahnya.
Sementara itu, M. Jazaul Khoir, yang berlatar belakang santri dan aktif di kegiatan keagamaan serta sosial, menegaskan kesiapan dan optimisme tinggi.
“Sebagai putra desa, InsyaAllah saya ingin memberi kontribusi positif bagi Desa Singaraja. Saya siap mengikuti seluruh tahapan seleksi, dari administrasi hingga akademis, dengan optimisme tinggi. Saya berharap seleksi berlangsung transparan dan objektif, sehingga bakal calon yang lolos benar-benar memiliki kemampuan, integritas, dan komitmen untuk memajukan desa,” ujarnya.
Keempat bakal calon sepakat bahwa seleksi yang adil dan transparan sangat penting. Mereka menekankan bahwa kemampuan, integritas, dan dedikasi akan menentukan hasil seleksi, bukan sekadar popularitas atau kedekatan.
Baliho dan spanduk yang menghiasi desa bukan sekadar media promosi, tetapi simbol persaingan sehat sekaligus pengingat bahwa tahapan seleksi semakin dekat dan ketat.
Dengan semangat optimisme yang tinggi dan kesiapan matang, Juhaedi, Jamaludin, Hendi Mulyadi, dan M. Jazaul Khoir siap menghadapi seleksi yang akan menentukan lima bakal calon resmi yang berhak maju ke pemilihan Kuwu Desa Singaraja.
Desa Singaraja kini tidak hanya dipenuhi warna-warni dan wajah para bakal calon, tetapi juga ketegangan dan harapan besar menjelang kontestasi yang akan menentukan masa depan desa. (Pahmi)

























