Suaradermayu.com – Ketua Fraksi PKB DPRD Indramayu Ahmad Mujani Nur meminta perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu agar mendeteksi lebih dini soal kasus anak yang menderita gizi buruk.
Pasalnya, dalam dua pekan terakhir, dua kasus gizi buruk yang menimpa anak terdeteksi oleh media massa sehingga ramai diperbincangkan.
” Harusnya pemerintahan sekarang ini bisa mendeteksi dan mengetahui lebih dini anak yang menderita gizi buruk itu. Tapi, fakta sebaliknya pemerintah tidak mengetahui, ” kata Mujani, Rabu (9/11/2022).
Mujani menegaskan, bahwa Pemkab Indramayu tidak bisa mendeteksi dini kasus gizi buruk yang menimpa anak, hal ini menunjukan program dokter masuk rumah (Dok-Maru) yang di canangkan Pemkab Indramayu tidak maksimal.
” Pemerintah harus segera melakukan langkah-langkah kongkrit soal kasus gizi buruk ini, jangan sampai hanya pencitraan belaka, ” ujar dia.
Menurutnya, kasus gizi buruk yang terjadi saat ini merupakan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Indramayu. Pasalnya, kasus gizi buruk menimpa kepada keluarga yang tidak mampu, sehingga pemerintah wajib memperhatikannya.
” Kami meminta Dinas Kesehatan Indramayu harus peka dan serius menangani permasalahan gizi buruk, karena suatu daerah banyak penderita gizi buruk tanggung jawab ada di pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan, ” tandasnya.
Sebelumnya, dua kasus penderita gizi buruk ditemukan di wilayah Kabupaten Indramayu. Pada akhir Oktober lalu, ditemukan seorang penderita gizi buruk bernama Eri Shinta berusia 10 tahun di sebuah kontrakan rumah di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu.
Anak pasangan Wahyu dan Rasingkem ini tidak bisa tumbuh normal seperti anak pada umumnya. Eri dirawat oleh ayahnya seorang diri, sekitar 2 tahun lalu ibunya Rasingkem telah meninggal dunia.
Di rumah kontrakan berdinding batu bata, Eri Shinta biasa tidur diatas ayunan kain yang terbuat dari sarung. Terkadang Eri tidur dengan beralaskan tikar di kamar rumah.
” Tidak punya kasur mas, ” ujar Wahyu, dikutip suaradermayu.com (30/10/2022).
Kemudian kasus gizi buruk lain menimp Lissa Ameliyah Safitri, remaja berusia 15 tahun menderita gizi buruk asal Desa Sukahaji, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu, kondisinya memprihatinkan.
Anak kelima pasangan suami istri Nurakhmat (53) dan Turinih (43) itu mempunyai bobot badan hanya sekitar 10 kilogram. Kondisi tubuhnya kurus kering seolah hanya menyisakan kulit dan tulang saja.
” Berat badannya hanya sekitar 10 kilogram, ” ucap Nurakhmat, dikutip suaradernayu.com Selasa (8/11/2022).
Kedua anak penderita gizi buruk, Lissa Ameliyah Safitri dan Eri Shinta kini tengah ditangani tim medis dari pemerintah untuk menjalani perawatan intensif di rumah sakit.


























