Suaradermayu.com – Momentum Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama tidak sekadar menjadi ajang seremonial, tetapi juga ruang refleksi bagi seluruh warga Nahdliyin untuk menilai kembali peran dan kontribusi mereka bagi umat dan bangsa. Hal tersebut disampaikan Ketua PCNU Indramayu, KH Muhammad Mustofa, dalam pernyataan refleksi Harlah NU.
Menurutnya, peringatan hari lahir organisasi harus dimaknai sebagai momentum bermuhasabah: sejauh mana perjuangan para pendiri telah dilanjutkan, serta apa yang perlu dipersiapkan untuk menjawab tantangan masa depan.
“NU lahir dari kegelisahan para ulama dalam menjaga ajaran Islam yang moderat, ramah, dan menghargai tradisi. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, semangat tersebut tetap relevan — bahkan semakin dibutuhkan,” ujarnya di Aula Hotel Prima Indramayu, Sabtu (14/2/2026).
NU sebagai Penyejuk dan Perekat Bangsa
KH Muhammad Mustofa menegaskan bahwa NU memiliki peran strategis sebagai penyejuk dan perekat persatuan. Organisasi ini hadir untuk menjaga keseimbangan antara nilai keislaman dan kebangsaan, sekaligus merawat harmoni di tengah keberagaman.
Ia mengajak warga Nahdliyin untuk merefleksikan diri melalui sejumlah pertanyaan mendasar:
Apakah sudah menjaga ukhuwah dan persaudaraan?
Sudahkah mengamalkan nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil)?
Mampukah menjadi teladan di tengah masyarakat?
Kekuatan NU Ada pada Keikhlasan Berkhidmah
Menurutnya, kekuatan NU tidak hanya terletak pada besarnya jumlah jamaah, tetapi pada keikhlasan dalam berkhidmah. Peran pesantren, majelis taklim, hingga pelayanan sosial menjadi wujud nyata dakwah yang menebar rahmat bagi semesta.
“Dari pesantren hingga pelayanan sosial, semua adalah bentuk dakwah yang menghadirkan rahmat bagi masyarakat,” tegasnya.
Tantangan Zaman dan Kaderisasi
Ia juga menyoroti tantangan masa depan yang semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga dinamika pemikiran keagamaan. Karena itu, NU membutuhkan kader yang berilmu, berakhlak, adaptif, serta tetap berpegang teguh pada manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah.
Tiga Tekad Harlah NU
Dalam refleksi Harlah, KH Muhammad Mustofa mengajak seluruh warga Nahdliyin meneguhkan tiga tekad utama:
Meneguhkan khidmah — mengabdi tanpa pamrih untuk umat.
Memperkuat persatuan — merawat kebersamaan di tengah perbedaan.
Menyiapkan generasi penerus — memastikan estafet perjuangan tetap berjalan.
Ia berharap peringatan Harlah NU tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi energi spiritual untuk memperkokoh ibadah, pengabdian, dan upaya menjaga harmoni negeri.
“Semoga Harlah ini menjadi momentum memperkuat langkah kita dalam beribadah, berkhidmah, dan menjaga persatuan bangsa,” pungkasnya. (Abdul Syukur)


























