Suaradermayu.com – Gelaran Pemilihan Kuwu (Pilwu) Desa Singaraja, Kecamatan Indramayu yang dijadwalkan pada 10 Desember 2025 mulai menarik perhatian publik. Di antara nama-nama calon yang muncul, sosok Muhammad Jaza Ulkhoir, atau akrab disapa Kang Asa, tampil mencuri perhatian. Latar belakangnya sebagai santri sekaligus pengurus Pondok Pesantren Raudlatul Muta’alimin Kepolo membuatnya berbeda dari kebanyakan calon kuwu lainnya.
Lahir dari Keluarga Pesantren
Kang Asa adalah putra dari ulama kharismatik KH. Ubaidillah atau Abah Ubed, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muta’alimin Kepolo. Sejak kecil, Kang Asa tumbuh dalam suasana religius, ditempa disiplin pesantren, dan dididik untuk hidup sederhana, jujur, serta ikhlas mengabdi.
Pesantren tempat ia berkhidmat sekarang bukanlah lembaga biasa. Pesantren itu dirintis oleh kakeknya, KH. Bilal, seorang tokoh agama kharismatik yang dikenal luas di Indramayu. KH. Bilal bukan hanya mendirikan pesantren, tetapi juga menanamkan tradisi keilmuan, perjuangan, dan kepedulian sosial. Hingga kini, warisan beliau masih hidup dan dilanjutkan oleh anak-anak serta cucu-cucunya, termasuk Kang Asa.
Jejak keulamaan KH. Bilal membuat keluarga besar pesantren Raudlatul Muta’alimin Kepolo dihormati oleh masyarakat. Kini, estafet perjuangan itu diteruskan oleh Abah Ubed sebagai pengasuh, dan Kang Asa sebagai generasi penerus yang siap membawa semangat pesantren ke ruang pengabdian desa.
Visi: SINGARAJA sing RIDHOi
Dalam kontestasi Pilwu kali ini, Kang Asa hadir dengan membawa gagasan “SINGARAJA sing RIDHOi”, sebuah visi pembangunan desa yang berpijak pada nilai keagamaan sekaligus menjawab tantangan zaman. Visi ini dirumuskan dalam lima pilar utama:
Religius – Menjadikan agama sebagai fondasi moral dan perilaku masyarakat.
Inspirasi – Memberikan keteladanan dan motivasi khususnya bagi generasi muda.
Dedikasi – Mengabdikan diri sepenuhnya untuk kepentingan warga.
Harmonis – Menciptakan kerukunan dan kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.
Optimal – Mengelola dan memaksimalkan seluruh potensi desa untuk kesejahteraan bersama.
Bagi Kang Asa, visi tersebut bukan sekadar jargon, melainkan jalan untuk menjadikan Desa Singaraja sebagai desa yang diridhai Allah SWT, tempat warganya hidup tenteram, sejahtera, dan saling menghormati.
Santri yang Inklusif, Merangkul Semua Kalangan
Meski lekat dengan identitas santri dan pesantren, Kang Asa menegaskan dirinya akan memimpin dengan sikap inklusif. Ia menyadari bahwa Desa Singaraja adalah rumah bagi masyarakat yang beragam, baik dari sisi profesi, pandangan, maupun latar belakang sosial.
“Santri itu belajar merangkul. Saya tidak hanya membawa nilai keagamaan, tetapi juga komitmen untuk memperhatikan semua warga tanpa membeda-bedakan. Petani, nelayan, pedagang, buruh, maupun pemuda—semuanya adalah keluarga besar Singaraja,” tegasnya.
Dengan pendekatan itu, Kang Asa berharap kepemimpinan desa bisa menjadi ruang kebersamaan yang menampung aspirasi seluruh warga, tanpa terkecuali.
Program Konkret untuk Desa Singaraja
Untuk mewujudkan visinya, Kang Asa menyusun sejumlah program prioritas yang langsung menyentuh kebutuhan warga, di antaranya:
1. Peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan sebagai tulang punggung ekonomi desa.
2. Pengembangan UMKM serta ekonomi pesantren, sehingga warga memiliki kemandirian ekonomi.
3. Penguatan pendidikan agama dan umum, agar generasi muda Singaraja berilmu sekaligus berakhlak.
4. Digitalisasi pelayanan desa, guna mempercepat urusan administrasi masyarakat.
5. Perbaikan infrastruktur dasar seperti jalan desa, irigasi, sarana air bersih, dan fasilitas publik.
6. Revitalisasi budaya gotong royong, agar tradisi luhur masyarakat tetap terjaga.
7. Pemberdayaan pemuda dan perempuan, sehingga seluruh potensi desa bisa bergerak bersama.
Kang Asa menilai bahwa kemajuan desa bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia. Karena itu, setiap programnya diarahkan untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin.
Pilwu sebagai Ladang Pengabdian
Bagi Kang Asa, Pilwu bukan sekadar ajang perebutan jabatan, melainkan ladang ibadah untuk melanjutkan pengabdian kepada umat. Dengan bekal pendidikan pesantren, warisan perjuangan KH. Bilal, serta bimbingan sang ayah Abah Ubed, ia optimistis mampu menghadirkan kepemimpinan yang amanah dan berpihak kepada rakyat kecil.
“Mohon doa dan restu seluruh warga Singaraja. Insya Allah, jika dipercaya, saya akan mengabdi sepenuh hati. Kepemimpinan ini bukan untuk mencari kehormatan, melainkan untuk melayani, merangkul, dan membangun desa yang lebih baik, harmonis, dan diridhai Allah SWT,” tutup Kang Asa.


























