Suaradermayu.com – Peta politik menjelang Pilpres 2024 semakin panas. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) secara resmi mendeklarasikan dukungan kepada Ganjar Pranowo sebagai calon presiden. Tak hanya itu, PSI juga menyebut nama Yenny Wahid sebagai sosok ideal pendamping Ganjar.
Baca Juga : KPK Tetapkan Sekjen PDIP Tersangka, Begini Peran Hasto Kristiyanto di Kasus Harun Masiku
Deklarasi tersebut disampaikan Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, dalam konferensi pers pada Senin (3/9/2022). Ia menyebut, Ganjar-Yenny adalah pasangan serasi yang mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.
“Kombinasi Ganjar Pranowo – Yenny Wahid kami nilai pasangan cocok sebagai pemimpin Indonesia ke depan,” ujar Grace.
Grace menegaskan bahwa keputusan ini bukan kehendak elite partai, melainkan hasil dari “Rembuk Rakyat”, yaitu mekanisme internal PSI untuk menjaring aspirasi masyarakat.
“Ganjar adalah calon presiden pilihan rakyat, bukan sekadar keinginan elite PSI,” tegasnya.
PDIP Meradang, Hasto Ingatkan Etika Politik
Langkah PSI ternyata memicu reaksi keras dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyayangkan manuver tersebut, dan mengingatkan kembali soal pengalaman politik di Pemilu 2014.
“Antara PSI dan PDIP waktu itu sama-sama mendukung Pak Jokowi, tapi di praktiknya, banyak manuver PSI yang merugikan PDIP,” ucap Hasto saat ditemui Jumat (7/10/2022).
Menurutnya, PDIP memiliki mekanisme internal yang ketat dalam menentukan pasangan capres-cawapres, dan tidak akan mengambil keputusan secara gegabah atau hanya demi efek populer.
“Ketua Umum kami, Ibu Megawati Soekarnoputri, selalu melakukan kalkulasi politik yang matang,” tambahnya.
Meski mengakui kedaulatan PSI sebagai partai politik, Hasto tetap memberi peringatan keras:
“Jangan rendahkan martabat calon pemimpin hanya demi efek elektoral, efek ekor jas,” katanya tajam.
PSI vs PDIP: Sekutu yang Jadi Kompetitor?
Langkah PSI mendukung Ganjar Pranowo di luar koordinasi dengan PDIP membuat banyak pihak bertanya: Apakah PSI dan PDIP kini menjadi rival politik?
Keduanya sempat berada di barisan yang sama saat mendukung Presiden Jokowi, tetapi perbedaan strategi belakangan ini memperlihatkan potensi keretakan.
Pengamat menilai, PSI bisa jadi ingin mencuri panggung politik dan meningkatkan elektabilitas dengan mengusung tokoh besar seperti Ganjar dan Yenny. Namun, strategi ini berisiko memicu konflik dengan PDIP, partai besar yang sejak awal mengusung Ganjar sebagai kader internal.
Pilihan Politik dan Etika Demokrasi
Meski Pilpres 2024 masih cukup jauh, dinamika politik yang terjadi menunjukkan arah koalisi dan strategi partai mulai terbentuk. Pertanyaannya: apakah pasangan Ganjar-Yenny benar-benar akan maju? Ataukah ini hanya bagian dari manuver citra politik?
Baca Juga : KPK Panggil Sekjen PDIP sebagai Tersangka Kasus Harun Masiku
Publik kini semakin cerdas dalam menilai. Manuver pragmatis tanpa etika bisa menjadi bumerang. Sebaliknya, konsistensi dan integritas tetap akan menjadi landasan utama dalam demokrasi yang sehat.


























