Suaradermayu.com – Hujan yang turun sejak Minggu pagi tidak menghalangi semangat warga Desa Singajaya. Dari Blok Makam Kanjeng hingga Karang Pojok, warga bekerja bahu-membahu membersihkan saluran air, selokan, dan lingkungan desa. Aksi ini dipimpin langsung oleh Kuwu terpilih, Khaerul Anam, yang menjadi simbol kepedulian dan semangat kebersamaan warga.
Setiap sapuan, setiap langkah, dan setiap tangan yang basah kuyup menunjukkan satu hal: kebersamaan warga tanpa batas. Meski cuaca tidak bersahabat dan konsumsi yang disediakan hanya seadanya, warga tetap bersemangat bekerja tanpa dibayar sepeser pun, mendedikasikan tenaga dan waktunya demi lingkungan mereka sendiri.
Baca Juga : Kuwu Singajaya Khaerul Anam Siap Dikritik, Tolak Tekanan dan Ajak Warga Bangun Desa Bersama
“Bersih-bersih desa ini bukan hanya untuk orang lain, tapi untuk kita semua. Rumah kita, desa kita, tanggung jawab kita bersama,” kata Anam, yang tetap memimpin dengan semangat meski hujan menetes di wajahnya.
Muyip Mugeni, salah satu tokoh pemuda, menambahkan, “Hujan pun tidak menyurutkan kami. Semua warga bahu-membahu, saling membantu. Luar biasa kekompakan warga membersihkan desa sendiri dan melihat hasilnya langsung. Semangat ini benar-benar patut ditiru.”
Usai kegiatan, suasana berubah menjadi keceriaan dan kehangatan. Warga sejenak melepas lelah sambil ngopi dan bersenda gurau dengan Kuwu terpilih.
“Pak Kuwu, nanti kalau sudah dilantik terus jabat jangan lupakan masyarakat,” celetuk salah seorang warga, disambut tawa ringan dari yang lain.
Meski belum dilantik, Anam yang berada tepat di sebelahnya tersenyum lebar. Ia pun berjanji akan menjalankan amanah yang telah dibebankan ke pundaknya.
“InsyaAllah saya akan menjalankan amanah yang diberikan mamang-mamang,” ucapnya tegas namun hangat.
“Tolong bantu saya, beri saya masukan dan saran. Tegur saya kalau saya melenceng ya,” tambahnya, menegaskan komitmennya untuk tetap dekat dengan warga.
Anam berharap kebersamaan ini tidak hanya muncul saat membersihkan lingkungan, tetapi dapat terus dijaga di setiap momen kehidupan warga.
“Menjalankan roda pemerintahan butuh kebersamaan, saling memberi masukan, saling mengingatkan. Saya pun berjanji akan menerima masukan maupun kritik dari masyarakat, tidak memandang siapapun. Selagi itu baik buat masyarakat, masukan dan kritik akan terus dipertimbangkan dan dijalankan,” ujar Anam.
Aksi gotong royong ini bukan sekadar membersihkan fisik desa, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga. Tawa, lelah yang dibagi bersama, dan rasa memiliki terhadap desa menciptakan momen kebersamaan yang tak ternilai. Desa Singajaya kini tidak hanya lebih bersih, tetapi menjadi simbol kebersamaan, solidaritas, dan semangat warga yang tak terbatas, bahkan ketika tantangan datang dari hujan atau keterbatasan fasilitas.
Gotong royong ini membuktikan bahwa ketika warga bersatu, desa menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal—ia menjadi rumah bagi kepedulian, kerja sama, dan kebersamaan tanpa batas, di mana semangat warga lebih besar daripada segala tantangan. (Nurhaeni Mudi)

























