Suaradermayu.com – Kuwu Desa Singajaya, Khaerul Anam menegaskan kesiapannya menerima kritik keras dari masyarakat, menolak segala bentuk tekanan kepentingan, serta mengajak seluruh warga untuk bersama-sama membangun desa dengan semangat saling mengingatkan dan saling mengawasi.
Komitmen tersebut disampaikan Anam sebagai sikap awal kepemimpinannya dalam menjalankan pemerintahan desa yang terbuka, adil, dan berintegritas. Ia menegaskan bahwa jabatan kuwu bukanlah simbol kekuasaan, melainkan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Menurut Anam, perbedaan pendapat dalam masyarakat adalah hal yang wajar dan tidak bisa dihindari. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berubah menjadi tekanan atau pemaksaan kehendak terhadap jalannya pemerintahan desa.
“Perbedaan pendapat itu wajar. Yang tidak boleh adalah ketika perbedaan berubah menjadi tekanan atau pemaksaan kehendak,” tegasnya, Kamis (25/12/2025).
Ia menekankan bahwa dirinya bukan tipe pemimpin yang anti kritik. Bahkan, kritik yang disampaikan secara keras sekalipun siap ia terima, selama bertujuan untuk kebaikan desa dan kepentingan masyarakat luas.
“Kritik itu bukan ancaman, justru pengingat. Kuwu yang kuat bukan yang kebal kritik, tetapi yang sanggup dikritik tanpa kehilangan arah,” ujar Anam.
Lebih lanjut, Anam menilai bahwa kritik dan pengawasan dari masyarakat merupakan elemen penting agar pemerintahan desa tidak berjalan sewenang-wenang. Tanpa kontrol publik, kata dia, pejabat desa berpotensi lupa bahwa kewenangan yang dimiliki hanyalah titipan dari rakyat.
Meski demikian, Anam dengan tegas membedakan antara kritik yang membangun dengan tekanan kepentingan pribadi. Ia menyatakan penolakannya terhadap segala bentuk upaya yang mencoba memaksakan kehendak, terlebih jika dibungkus dengan ambisi untuk menguasai jabatan atau mengatur kebijakan desa.
“Kalau ingin mengabdi, silakan ikuti aturan dan proses. Jangan menekan, jangan memaksakan kehendak. Desa ini tidak boleh dikelola berdasarkan ambisi pribadi,” katanya.
Menariknya, Khaerul Anam mengungkapkan bahwa meski dirinya belum dilantik secara resmi sebagai kuwu, ia sudah merasakan adanya berbagai keinginan dari segelintir pihak yang mencoba mempengaruhi arah pemerintahan desa ke depan.
“Bahkan sebelum dilantik pun sudah ada yang menitipkan kepentingan, meminta posisi, dan mencoba mengatur kebijakan. Ini menjadi pelajaran awal bahwa pemerintahan desa harus berdiri di atas aturan, bukan tekanan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintahan desa tidak boleh dibangun atas dasar balas jasa, kedekatan personal, atau tekanan kelompok tertentu. Seluruh kebijakan dan penempatan jabatan, menurutnya, harus mengedepankan integritas, kapasitas, serta kepentingan masyarakat luas.
Anam juga menegaskan bahwa keterbukaan terhadap kritik bukanlah bentuk kelemahan, dan ketegasan menolak tekanan tidak bisa dimaknai sebagai sikap anti demokrasi. Ia berkomitmen membuka ruang dialog seluas-luasnya, namun tetap berdiri teguh pada prinsip dan aturan yang berlaku.
Dalam kesempatan tersebut, Khaerul Anam mengajak seluruh warga Desa Singajaya untuk bersama-sama membangun desa dengan semangat saling mengingatkan, saling mengawasi, dan saling menjaga.
“Desa ini milik kita bersama. Kalau saya salah, ingatkan. Kalau perangkat desa keliru, tegur. Jangan diam, tapi juga jangan saling menjatuhkan,” pesannya.
Ia menekankan bahwa pembangunan desa tidak bisa hanya dibebankan kepada kuwu atau perangkat desa semata, melainkan membutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat. Budaya saling mengingatkan, kata Anam, menjadi kunci agar pemerintahan desa tetap berjalan lurus, sehat, dan bermartabat.
Anam juga mengajak masyarakat untuk menyampaikan kritik dan masukan secara terbuka, jujur, dan bertanggung jawab, dengan mengedepankan solusi, bukan provokasi ataupun konflik.
“Kalau kita saling mengingatkan dengan niat baik, desa akan kuat. Pemerintahan desa akan bersih, dan kepercayaan masyarakat akan terjaga,” pungkasnya.
Dengan komitmen tersebut, Khaerul Anam menegaskan kesiapannya memimpin Desa Singajaya secara tegas, transparan, dan berintegritas—menjadikan kritik sebagai kekuatan, menolak tekanan kepentingan, serta mengajak seluruh warga membangun desa bersama demi kemajuan dan kesejahteraan bersama. (Nadzif)
Artikel Terkait :
Teriakan Warga Pecah Sore Hari, Terduga Maling Motor Babak Belur Diamankan Polisi di Singajaya
Dugaan Intimidasi Pasca-Pilwu Singajaya, Anggota DPRD Jabar Hilal Hilmawan Disorot
Dugaan Timses No.1 Kumpulkan C6 Pilwu Singajaya, Warga Diiming-Imingi Rp100 Ribu
Tangisan Misterius Tengah Malam Berujung Penemuan Jasad Wanita Gosong di Singajaya Indramayu
Tangis Haru Warnai Perpisahan MI Assalafiyah Singajaya, Siswa Sungkeman Usai Tampil Kreasi Seni
Bang Bul Ingatkan Kuwu Terpilih Singajaya: Jangan Lupakan Pendukung yang Berkeringat
























