Suaradermayu.com – Ketua Gerakan Rakyat Indramayu (GRI), Muhammad Sholihin, menegaskan bahwa aksi demonstrasi bertajuk “Pulangkan Lucky Hakim ke Cilacap” pada Hari Jadi Indramayu, 7 Oktober 2025 lalu, tidak membawa nama Ketua PWNU Jawa Barat KH. Juhadi Muhammad maupun atribut organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Sholihin menekankan, gerakan ini murni suara rakyat Indramayu yang menyoroti stagnasi politik dan lemahnya reformasi birokrasi di daerah.
“Saya tegaskan, aksi itu murni gerakan rakyat. Tidak ada kaitannya dengan Ketua PWNU Jabar, apalagi simbol NU. Ini suara rakyat yang kritis terhadap kebijakan pemerintah daerah yang belum berpihak pada masyarakat,” kata Muhammad Sholihin, melalui keterangan tertulisnya yang diterim Suaradermayu.com, Jumat (24/10/2025).
Tanggapan Atas Pernyataan LPBHNU Indramayu
Sholihin menyampaikan bantahan sekaligus menanggapi pemberitaan LPBHNU Indramayu di Suaradermayu.com, yang menuding adanya pencatutan nama Ketua PWNU atau politisasi NU dalam aksi GRI.
“Saya langsung menanggapi pernyataan itu. Tuduhan bahwa kami mencatut nama Ketua PWNU Jabar atau menggunakan atribut NU itu salah besar. Gerakan ini murni ekspresi rakyat, bukan politisasi NU,” ujar Sholihin.
Klarifikasi Hubungan dengan KH. Juhadi Muhammad
Sholihin menegaskan, hubungannya dengan KH. Juhadi Muhammad sudah terjalin puluhan tahun dan bersifat personal, bahkan sebelum KH. Juhadi menjadi Ketua PCNU Indramayu pertama.
“Saya kenal beliau sejak lama. Dulu saya juga pernah mengajar di lembaga pendidikan di Yayasan Al-Hidayah milik beliau di Karanganyar, Pasekan. Hubungan kami personal, bukan institusional. Tidak ada pembicaraan terkait jabatan beliau di NU,” jelasnya.
Tabayun Langsung ke Ketua PCNU Indramayu
Begitu isu mencuat, Sholihin langsung melakukan tabayun dengan Ketua PCNU Indramayu, Kang Mustofa, baik secara langsung maupun via telepon.
“Saya sampaikan bahwa hubungan saya dengan KH. Juhadi pribadi, bukan institusi, dan GRI tidak membawa-bawa NU dalam aksi 7 Oktober kemarin,” ujar Sholihin.
Ia menekankan tabayun penting untuk menjaga marwah NU tetap netral dari kepentingan politik praktis.
Aktivis Reformasi 98 yang Konsisten Kritis
Sholihin bukan hanya politisi, tetapi juga aktivis Reformasi 1998 di Indramayu. Ia pernah menjadi Presidium SOMASI (Solidaritas Mahasiswa Seluruh Indramayu) dan aktif menyuarakan hak-hak rakyat sejak era Bupati Ope Mustofa hingga sekarang.
“Sejak zaman Ope Mustofa, Yance, sampai sekarang, saya sudah turun ke jalan mengkritisi kebijakan yang tidak pro rakyat. Jiwa kritis itu tidak bisa hilang,” tegasnya.
GRI: Suara Moral Rakyat Indramayu
Sholihin menegaskan, GRI hadir sebagai gerakan moral rakyat, bukan oposisi politik.
“GRI bukan lawan pemerintah, tapi pengingat moral. Kami ingin Indramayu kembali pada cita-cita para pendirinya: jujur, adil, dan berpihak pada rakyat,” tutupnya. (Pahmi)

























