Suaradermayu.com – Dugaan praktik pungutan liar (pungli) dalam pengelolaan parkir di sejumlah ruas jalan protokol di Kota Indramayu mulai menjadi sorotan publik. Sejumlah juru parkir (jukir) liar mengaku diminta menyetor sejumlah uang setiap hari oleh oknum yang disebut-sebut berkaitan dengan pengelolaan perparkiran.
Praktik tersebut diduga terjadi di beberapa ruas jalan utama yang menjadi pusat aktivitas masyarakat, seperti Jalan Jend. Sudirman, Jalan Mayjen Sutoyo, dan Jalan DI Panjaitan.
Di kawasan tersebut, aktivitas parkir kendaraan terlihat cukup padat, terutama di sekitar pertokoan, pusat kuliner, dan lokasi usaha lainnya.
Bahu jalan di sepanjang kawasan itu kerap dimanfaatkan sebagai area parkir kendaraan roda dua maupun roda empat. Kondisi ini membuat keberadaan juru parkir hampir selalu ditemui di titik-titik keramaian tersebut.
Namun di balik aktivitas parkir yang terlihat biasa tersebut, sejumlah juru parkir mengungkap adanya sistem setoran yang harus diberikan setiap hari agar mereka tetap diperbolehkan menjaga parkir di lokasi tersebut.
Salah seorang juru parkir yang ditemui di kawasan Jalan DI Panjaitan mengatakan bahwa nominal pungutan yang diminta bervariasi, mulai dari Rp30.000 hingga Rp80.000 per hari.
“Biasanya setiap hari ada yang datang menagih setoran. Paling sedikit sekitar tiga puluh ribu sampai lima puluh ribu,” ujar pria tersebut yang meminta namanya tidak disebutkan.
Menurutnya, pada hari-hari tertentu seperti akhir pekan atau hari libur, jumlah pungutan yang diminta bahkan bisa lebih besar karena aktivitas parkir dinilai lebih ramai.
“Kalau lagi ramai atau hari libur bisa lebih dari itu. Katanya karena pengunjung banyak, jadi setoran juga harus naik,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa para juru parkir tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti sistem tersebut agar tetap bisa bekerja.
“Kalau tidak setor biasanya kami disuruh pindah atau tidak boleh jaga parkir lagi di tempat itu,” ungkapnya.
Pengakuan serupa juga disampaikan oleh sumber lain yang juga berprofesi sebagai juru parkir di kawasan jalan Jend. Sudirman Indramayu. Ia mengatakan praktik tersebut diduga sudah berlangsung cukup lama.
“Kalau tidak kasih uang biasanya diusir. Bahkan ada yang dilarang jaga parkir lagi di situ,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak juru parkir merasa terpaksa mengikuti sistem setoran agar tetap bisa mencari penghasilan.
“Jadi mau tidak mau kami ikut saja. Yang penting masih bisa kerja,” tambahnya.
Sumber tersebut juga menyebut bahwa jumlah juru parkir liar di sepanjang jalan protokol Indramayu cukup banyak. Ia memperkirakan jumlahnya bisa mencapai ratusan orang yang tersebar di berbagai titik.
“Di sepanjang jalan protokol itu banyak sekali jukir. Bisa ratusan orang kalau dihitung dari ujung ke ujung,” katanya.
Dengan banyaknya juru parkir yang beroperasi, praktik setoran harian tersebut diduga menghasilkan uang dalam jumlah cukup besar setiap harinya.
Sementara itu, seorang warga yang sering beraktivitas di kawasan pusat kota mengatakan bahwa praktik parkir di beberapa titik memang sering menimbulkan kebingungan bagi masyarakat.
“Kadang kita diminta bayar parkir, tapi tidak ada karcisnya. Jadi tidak tahu ini parkir resmi atau tidak,” ujar warga tersebut.
Menurutnya, jika pengelolaan parkir dilakukan secara resmi dan transparan, masyarakat tentu tidak akan keberatan membayar sesuai aturan yang berlaku.
“Kalau ada karcis resmi dan jelas aturannya, masyarakat pasti mau bayar. Tapi kalau tidak jelas seperti ini jadi menimbulkan pertanyaan,” katanya.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa di beberapa titik jalan protokol memang terdapat juru parkir yang beroperasi tanpa atribut resmi seperti rompi atau kartu identitas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Dinas Perhubungan Kabupaten Indramayu terkait dugaan pungutan harian terhadap juru parkir liar di sejumlah ruas jalan protokol di Kota Indramayu tersebut.
Sementara itu, Suaradermayu.com mencoba meminta klarifikasi Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Indramayu Ali Fikri namun staf yang enggan disebutkan namanya memberitahukan bahwa Ali Fikri tidak berada di ruangannya.
“Bapak tidak ada mas, sedang keluar,” ujar staf tersebut. (Redaksi)


























