Suaradermayu.com – Pemilihan Kuwu (Pilwu) Singaraja yang telah selesai berjalan dengan tertib kini menyisakan harapan besar bagi masyarakat untuk kembali bersatu. Di tengah suasana pasca pemungutan suara, tokoh agama setempat, Kiai Ahmad Toyyibin atau Abah Ibing, menyampaikan pesan menyejukkan agar warga tidak larut dalam perbedaan pilihan.
“Mari masyarakat Singaraja, kita satu kata. Siapa yang terpilih, itulah pemimpin kita, kuwu kita. Kita rajut kembali persatuan, meduluran. Jangan sampai pecah belah. Ayo jalin silaturrahmi kembali. Semoga kita tetap dalam lindungan dan ridla Allah SWT, Aamiin Yaa Robbal Alamin,” ujar Abah Ibing kepada Suaradermayu.com, Rabu (10/12/2025).
Ia menegaskan bahwa setelah Pilwu selesai, damai adalah pilihan terbaik, dan menjaga persatuan merupakan bagian dari ibadah yang bernilai tinggi.
Abah Ibing kemudian menukil firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 103, “Wa’tasimū bi ḥablillāhi jamī‘an wa lā tafarraqū,” yang berarti, “Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” Ayat ini, menurutnya, adalah penegasan bahwa kebersamaan harus dikedepankan, terutama setelah kontestasi desa yang rawan memunculkan perbedaan pandangan.
Kepada para calon kuwu yang tidak terpilih, Abah Ibing mengajak agar tetap lapang dada dan menerima hasil Pilwu dengan sikap ksatria. Ia mengingatkan bahwa Allah memandang usaha, bukan hasil akhir. “Yang penting adalah bagaimana kita berikhtiar dan bagaimana kita menyikapi hasilnya. Teruslah menjadi teladan bagi warga serta tetap berperan dalam pembangunan desa. Jabatan adalah amanah, sementara kerukunan merupakan kewajiban bersama,” tuturnya.
Selain pesan moral tersebut, kehidupan keagamaan di Singaraja turut menjadi perekat sosial warga. Di desa ini berdiri Zawiyah Tarekat At-Tijaniyah, yang sejak lama menjadi pusat kegiatan spiritual masyarakat. Setiap hari Jumat selepas salat Ashar hingga menjelang Maghrib, dari Zawiyah tersebut terdengar lantunan tahlil dan zikir bersama. Jamaah melafalkan kalimat lā ilāha illā Allāh secara berulang, menciptakan suasana yang tenang dan menenteramkan, terutama setelah masa-masa pemilihan.
Tradisi tersebut telah menjadi ruang bagi masyarakat untuk menata kembali suasana hati, meredakan ketegangan, serta memperkuat hubungan antarwarga. Zikir yang dilantunkan bersama tidak hanya menjadi ibadah rutin, tetapi juga sarana mempererat tali silaturahmi.
Selain kegiatan setiap Jumat, Zawiyah At-Tijaniyah juga menggelar pembacaan manakib Syekh Ahmad At-Tijani setiap malam Ahad. Tradisi ini menjadi agenda keagamaan yang dihadiri banyak jamaah dari berbagai wilayah. Pembacaan manakib diawali dengan wirid dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan kisah keteladanan Syekh Ahmad At-Tijani yang bertujuan memperkuat kecintaan kepada ulama serta memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Ritual ini telah lama menjadi pengikat sosial yang kuat di tengah masyarakat Singaraja. Selain memberikan ketenangan batin, kegiatan tersebut menumbuhkan rasa kebersamaan yang semakin kokoh, terutama setelah proses pemilihan desa yang penuh dinamika. Sejumlah jamaah menyebut bahwa kegiatan di Zawiyah At-Tijaniyah membantu menjaga suasana damai serta memperkuat hubungan antarwarga.
Di akhir pesannya, Abah Ibing menegaskan bahwa desa kuat lahir dari warga yang rukun. “Damai itu indah, bersatu itu ibadah,” ujarnya. Ia berharap seluruh warga Singaraja — baik pendukung calon terpilih maupun yang belum berhasil — dapat kembali menyatu demi masa depan desa yang lebih baik.
Dengan semangat kebersamaan dan tradisi keagamaan yang terus terjaga, Singaraja diharapkan mampu kembali harmonis dan melangkah maju bersama pemimpin barunya. (Pahmi)


























