Suaradermayu.com – Kabar yang berkembang belakangan ini begitu menyayat hati bagi siapa saja yang mengagumi ketegasan sosok dalam memperjuangkan keadilan.
Nama Toni RM yang dikenal sebagai advokat vokal yang tak kenal gentar, kini justru diselimuti bisik-bisik pahit, dikatakan sudah meredup, bahkan dianggap “tidak laku” lagi dipercaya membela perkara hukum usai mendampingi perkara berat Ririn Rifanto kasus pembunuhan satu keluarga di Paoman Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
Banyak yang menduga kepercayaan masyarakat telah luntur, dan tak ada lagi pihak yang berani atau mau mempercayakan nasib hukumnya kepadanya. Padahal kenyataan berbicara sebaliknya—dan berbicara sangat nyata.
Faktanya hingga detik ini, Toni RM masih setia berdiri di samping Ririn Rifanto sebagai penasihat hukumnya. Ia sendiri menegaskan bahwa berkas banding telah disusun secara matang dan resmi sudah diajukan, tak sedikit pun mundur meski bayang-bayang vonis mati terus mengintai.
Dan kini, fakta lain kembali mematahkan anggapan yang tak berdasar itu, Toni RM diam-diam kembali dipercaya memegang amanah besar sebagai bagian dari penasihat hukum dr. Richard Lee—publik figur besar yang setiap langkahnya selalu menjadi sorotan masyarakat luas.
Di konfirmasi Suaradermayu.com, Toni RM membenarkan hal itu secara terbuka: “Benar, saya sekarang menjadi bagian dari penasihat hukum dr. Richard Lee,” ujarnya.
Jika benar ia sudah “tidak laku”, tak mungkin tokoh publik yang sangat terekspos justru memilihnya. Kepercayaan ini adalah bukti nyata bahwa kemampuan, keberanian, dan integritasnya belum pudar sedikit pun.
Anggapan bahwa ia malu atau mundur menghadapi vonis berat runtuh seketika, karena nyatanya ia tetap memikul dua amanah berat sekaligus, memperjuangkan nasib Ririn Rifanto, dan kini juga memegang pembelaan dr. Richard Lee.
Masyarakat pun kini diajak membedah mana yang sekadar fitnah, dan mana yang fakta. Bahwa suara yang dulu lantang itu belum padam, dan kepercayaan yang datang bukan karena ia meredup, melainkan karena orang-orang masih percaya, keadilan butuh pejuang yang tak mudah menyerah, meski dihujat dan diduga tak lagi dicari. (Tim Redaksi)























