Home / Opini

Rabu, 20 Agustus 2025 - 00:05 WIB

Indonesia Akan Menjadi Pusat Dunia: Antara Harapan, Fakta, dan Jalan Panjang

Ketum Komite Rakyat Indramayu Barat (KORIB), H. Sona Susanto

Ketum Komite Rakyat Indramayu Barat (KORIB), H. Sona Susanto

Suaradermayu.com- Banyak ramalan kuno dan bisikan spiritual menyebut Nusantara akan menjadi “cahaya dari timur”, pusat peradaban baru yang diperhitungkan dunia. Sebagian orang mungkin menganggapnya hanya mitos, sebagian lain menghubungkannya dengan doa para wali, bahkan ada yang merujuk pada ramalan Jayabaya yang masyhur di tanah Jawa. Tetapi jika kita menilik lebih dalam, melihat letak geografis, potensi ekonomi, kekuatan budaya, serta spiritualitas bangsa ini, sesungguhnya gagasan Indonesia sebagai pusat dunia bukanlah mimpi kosong.

Tulisan ini mencoba menuturkan pandangan populer, mudah dipahami, dan penuh semangat kebangsaan, tentang mengapa Indonesia punya peluang besar tampil sebagai pusat dunia di abad ke-21.

1. Letak Geografis: Anugerah yang Tak Tergantikan

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau. Dari Sabang sampai Merauke, kita berdiri di jalur emas: antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, antara Asia dan Australia. Setiap kapal dagang dari Timur Tengah, Afrika, India, China, Jepang, hingga Eropa pasti melewati jalur perairan Nusantara.

Selat Malaka—yang sebagian masuk wilayah Indonesia—adalah salah satu jalur perdagangan laut paling sibuk di dunia. Energi, barang industri, pangan, semuanya melintas di sana. Inilah yang membuat Indonesia tidak hanya penting, tapi terlalu penting untuk diabaikan.

Jika bangsa ini mampu menjaga kedaulatan laut, memperkuat armada maritim, dan mengelola pelabuhan dengan baik, maka dunia akan selalu berpusat pada kita, karena siapa pun yang menguasai jalur laut Nusantara, akan berpengaruh besar pada perdagangan global.

2. Bonus Demografi: Kekuatan Kaum Muda

Salah satu kekuatan terbesar Indonesia adalah penduduknya. Saat banyak negara maju menghadapi krisis penduduk tua, Indonesia justru tengah menikmati bonus demografi: lebih dari 60% rakyat berada dalam usia produktif. Bayangkan, 270 juta jiwa dengan energi muda yang siap bekerja, berinovasi, dan berkarya.

Baca juga  Hari Santri dan IGD

Jika diarahkan dengan benar, generasi muda Indonesia akan menjadi motor penggerak ekonomi digital, industri kreatif, sains, teknologi, hingga diplomasi global. Sebaliknya, jika disia-siakan, bonus ini bisa berubah menjadi beban sosial.

Maka, rahasia agar Indonesia jadi pusat dunia bukan hanya soal infrastruktur megah, tetapi juga investasi pada manusia: pendidikan yang bermutu, akses kesehatan, keterampilan teknologi, dan sikap mental yang kuat.

3. Kekayaan Alam: Pusaka untuk Dunia

Indonesia adalah surga sumber daya alam. Kita punya cadangan nikel terbesar di dunia—bahan utama baterai kendaraan listrik. Kita punya hutan tropis yang disebut “paru-paru dunia”. Laut kita menyimpan ikan melimpah, terumbu karang yang indah, dan energi biru yang belum seluruhnya digarap.

Jika dikelola dengan cerdas, bukan hanya dijual dalam bentuk mentah, Indonesia bisa menjadi pusat energi bersih dunia. Bayangkan jika baterai mobil listrik dunia bergantung pada nikel Indonesia. Bayangkan jika oksigen dunia tergantung pada kelestarian hutan Kalimantan dan Papua. Dunia tak punya pilihan lain kecuali menoleh pada kita.

4. Ekonomi Digital dan Kreatif: Indonesia Bangkit

Beberapa tahun terakhir, Indonesia menjadi rumah bagi banyak startup “unicorn” dan “decacorn”. Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan sederet nama lain telah membuktikan bahwa anak muda Indonesia tidak kalah inovatif dibanding Silicon Valley.

Ekonomi digital kita adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Diperkirakan nilainya menembus lebih dari USD 300 miliar pada tahun 2030. Industri kreatif, mulai dari musik, film, game, hingga fesyen Muslim, semakin mendunia.

Baca juga  Transparansi dan Integritas Lelang Projek di Kabupaten Indramayu 2023.

Bayangkan jika kreativitas ini terus tumbuh, maka Indonesia bisa menjadi pusat ekonomi kreatif dunia, tempat ide-ide baru lahir dan menyebar.

5. Spiritualitas Nusantara: Pusat Kedamaian Dunia

Indonesia bukan hanya tentang ekonomi dan politik. Negeri ini juga kaya spiritualitas. Di tengah dunia yang penuh konflik, Indonesia menunjukkan bahwa keragaman agama, budaya, dan etnis bisa hidup berdampingan. Memang ada gesekan, tetapi hingga kini, bangsa ini tetap berdiri di atas asas Pancasila: berbeda-beda tetapi satu jua.

Indonesia adalah rumah bagi umat Islam terbesar di dunia, tetapi juga tempat di mana agama lain hidup bersama. Toleransi inilah yang kelak bisa menjadi teladan dunia. Di saat banyak bangsa terjebak perang identitas, Indonesia bisa tampil sebagai pusat perdamaian, pusat dialog antaragama, dan pusat spiritual dunia.

6. Politik Bebas Aktif: Jembatan Dunia

Sejak era Soekarno, politik luar negeri Indonesia dikenal dengan istilah “bebas aktif”. Bebas berarti tidak terikat blok manapun, aktif berarti ikut berperan dalam perdamaian dunia. Saat Perang Dingin, Indonesia memelopori Gerakan Non-Blok. Kini, saat dunia diwarnai persaingan AS–China, Eropa–Rusia, Indonesia bisa kembali memainkan peran sebagai penengah.

Presiden Jokowi bahkan pernah menegaskan bahwa Indonesia harus jadi “poros maritim dunia” sekaligus penyeimbang global. Jika politik luar negeri ini dijalankan dengan konsisten, dunia akan melihat Indonesia bukan sebagai pengikut, tetapi sebagai jembatan yang mempertemukan berbagai kepentingan.

Baca juga  Sejarah yang Dibiarkan Sunyi: Pemda dan DPRD Harus Selamatkan Situs Makam Kanjeng Raden Djalari di Singajaya

7. Tantangan yang Mengadang

Namun, jalan menuju pusat dunia tidak semudah membalik telapak tangan. Ada banyak tantangan besar:

Korupsi yang masih mengakar di birokrasi.

Ketimpangan sosial antara kaya dan miskin.

Ketergantungan pada ekspor mentah, tanpa hilirisasi yang kuat.

Pendidikan dan kesehatan yang belum merata.

Ancaman geopolitik dari negara-negara besar yang ingin menguasai sumber daya kita.

Semua ini adalah pekerjaan rumah yang harus dituntaskan jika kita benar-benar ingin menjadi pusat dunia.

8. Jalan Panjang Menuju 2045

Indonesia akan merayakan 100 tahun kemerdekaan pada 2045. Banyak yang menyebut tahun itu sebagai “Indonesia Emas”. Pertanyaan besar: apakah pada saat itu kita benar-benar sudah jadi pusat dunia?

Jawabannya tergantung pada langkah hari ini. Jika kita bisa membangun industri yang kuat, menjaga persatuan, memperkuat pendidikan, dan mengelola kekayaan alam dengan bijak, maka Indonesia Emas bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan.

Sejarah memberi kita banyak contoh. Dulu, Sriwijaya pernah menjadi pusat perdagangan dan ilmu di Asia Tenggara. Majapahit pernah menyatukan Nusantara dan disegani hingga luar Jawa. Mengapa kini kita tidak bisa mengulanginya dengan cara yang lebih modern?

Penutup: Cahaya Itu Ada pada Kita

Indonesia akan menjadi pusat dunia bukan karena ramalan semata, tetapi karena semua modal sudah ada di tangan kita: posisi strategis, penduduk besar, kekayaan alam, kreativitas, spiritualitas, dan politik luar negeri yang mandiri.

Yang dibutuhkan hanyalah satu hal: kesadaran kolektif bangsa ini untuk bersatu, bekerja keras, dan tidak lagi tergoda oleh kepentingan sempit. Jika itu terwujud, maka bukan mustahil di abad ke-21 ini, dunia akan menoleh ke timur dan berkata : “Di sanalah, di Nusantara, pusat dunia baru telah lahir.”

Penulis : H. Sona Susanto Ketum Komite Rakyat Indramayu Barat (KORIB)

Share :

Baca Juga

Opini

Razia Stasioner dan Tilang Manual di Indramayu

Opini

Negeri Konoho Bintang: Ketika Rakyat Kecil Ditekan, Koruptor Dilepas

Opini

Ramadhan, Momentum Gelorakan Visi Indramayu Berzakat untuk Pengentasan Kemiskinan

Opini

Ketua PWI DIY: Mengapa Memilih Hendry Ch Bangun sebagai Ketua Umum PWI?

Opini

Hari Santri dan IGD

Opini

Keberhasilan Pemerintah dalam Pengawasan Pupuk Subsidi Merupakan Garda Utama Menjaga Ketahanan pangan

Opini

Transparansi dan Integritas Lelang Projek di Kabupaten Indramayu 2023.

Opini

Wakil Rakyat Harus Paham Soal Mekanisme Penyertaan Modal BPR KR Indramayu.