Suaradermayu.com – Pemerintah Kabupaten Indramayu di bawah kepemimpinan Bupati Lucky Hakim kembali menggagas terobosan dalam dunia pendidikan. Salah satu program barunya adalah memasukkan ekstrakurikuler Bahasa Jepang ke dalam sekolah-sekolah tingkat SMP, SMA, dan SMK di seluruh wilayah Kabupaten Indramayu.
Langkah ini diambil sebagai respons atas tingginya permintaan tenaga kerja Indonesia yang mampu berbahasa Jepang, terutama untuk bekerja secara resmi di Negeri Sakura melalui program pemagangan dan kerja sama antarnegara.
Hal tersebut terungkap dalam tayangan YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, yang diunggah Senin (4/8/2025). Dalam tayangan itu, Bupati Lucky Hakim bertemu langsung dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Lembur Pakuan, membahas berbagai isu strategis termasuk pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan bahasa asing.
“Ini kan banyak permintaan dari Jepang bahwa orang yang sudah bisa Bahasa Jepang langsung berangkat, tinggal skill saja,” ujar Lucky.
Namun, Lucky menyoroti realita di lapangan bahwa belajar Bahasa Jepang di Indramayu masih membutuhkan waktu tunggu hingga satu tahun karena keterbatasan tempat belajar dan pengajar. Untuk itu, ia mengusulkan agar pembelajaran Bahasa Jepang dimulai sejak dini, yakni dari SMP hingga SMA/SMK.
“Nanti di SMA dan SMK ada pelatihan Bahasa Jepang. Kami masukkan juga di SMP. Jadi belajarnya 6 tahun. Maka setelah lulus, tinggal latih skill langsung bisa berangkat ke Jepang,” tambahnya.
Usulan tersebut mendapat sambutan positif dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia menyatakan akan menghubungkan program tersebut ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat agar segera ditindaklanjuti dan diimplementasikan.
“Nanti tinggal connect saja. Buat Dinas Pendidikan, mudah-mudahan Jepang masih bisa menerima tenaga kerja kita,” ujar Dedi.
Meski mendukung penuh, Dedi juga memberikan catatan penting mengenai perilaku tenaga kerja Indonesia di Jepang. Ia menyayangkan masih adanya perilaku yang kurang baik dari sebagian tenaga kerja sehingga berdampak pada reputasi Indonesia di mata pemerintah dan masyarakat Jepang.
“Saat ini kita terkait bahasa tidak hanya fokus Bahasa Inggris saja. Anak-anak kita banyak yang bekerja ke Jepang, maka kita harus fokus juga ke Bahasa Jepang. Tapi yang paling penting adalah sikap dan etika kerja,” tegasnya.
Dengan masuknya Bahasa Jepang sebagai kegiatan ekstrakurikuler resmi di sekolah, Pemerintah Kabupaten Indramayu berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya pintar dalam teori, tetapi juga siap kerja, disiplin, dan berdaya saing internasional.

























