Suaradermayu.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu mendukung penuh program revitalisasi tambak di Pantura yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Program ini bertujuan untuk mengembangkan perikanan budidaya berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, terutama di empat kabupaten yang menjadi lokasi utama proyek.
Direktur Perikanan Air Laut, Tinggal Hermawan, menjelaskan bahwa banyak tambak di Pantura saat ini tidak produktif akibat pencemaran air yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan budidaya udang menjadi berisiko tinggi. Sebagai solusinya, pemerintah mengganti komoditas utama dengan nila salin, yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan setempat.
Pada tahap awal, program ini akan dijalankan di lahan negara seluas 20 hektare yang mencakup kawasan hutan dan tanah timbul. Dengan pemanfaatan lahan yang optimal, diharapkan proyek ini bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat pesisir.
Menurut Tinggal Hermawan, revitalisasi tambak Pantura tidak hanya meningkatkan produksi perikanan tetapi juga membawa dampak ekonomi yang luas. Beberapa manfaatnya meliputi:
1. Pertumbuhan UMKM di sektor perikanan dan olahan hasil laut.
2. Peningkatan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
3. Perbaikan infrastruktur, termasuk akses transportasi dan logistik.
4. Pengembangan fasilitas telekomunikasi dan jaringan listrik.
5. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi kabupaten yang terlibat.
Di Kabupaten Indramayu, pemerintah akan mengembangkan kawasan tambak dalam bentuk blok seluas 1.000 hektare per wilayah. Rencana awal mencakup pembangunan empat blok di tiga kecamatan, yakni Cantigi, Pasekan, dan Losarang.
Bupati Indramayu, Lucky Hakim, menyampaikan bahwa salah satu tantangan utama proyek ini adalah potensi culture shock di masyarakat, terutama karena tambak modern ini berdekatan dengan kawasan industri. Oleh karena itu, pendekatan persuasif dan sosialisasi yang efektif menjadi prioritas agar masyarakat memahami manfaat jangka panjang dari program ini.
Selain itu, Pemkab Indramayu menegaskan pentingnya melibatkan tenaga kerja lokal dalam proyek ini. Pemerintah juga akan memastikan bahwa kawasan tambak tidak bersinggungan dengan kawasan industri guna menghindari konflik pemanfaatan lahan.
Revitalisasi tambak Pantura direncanakan mulai pada tahun 2025 dan ditargetkan beroperasi penuh pada pertengahan 2026, dengan produksi nila salin mencapai 80 ton per tahun. Jika berjalan sesuai rencana, pada tahun 2028 kawasan ini akan menjadi pusat perikanan budidaya unggulan di Indonesia.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, Edi Umaedi, berharap program ini dapat menjadi solusi konkret bagi masyarakat pesisir yang selama ini mengalami kendala, seperti menurunnya kualitas lahan dan kurangnya ketersediaan pakan.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri, Bambang Nariyono, menegaskan bahwa revitalisasi tambak Pantura bukan hanya sekadar proyek infrastruktur, tetapi juga langkah strategis untuk membangun ekonomi berbasis perikanan yang kuat dan berkelanjutan.
“Tidak semua daerah mendapatkan kesempatan seperti ini dari pemerintah pusat. Ini adalah momentum yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.


























