Home / Hikmah

Kamis, 26 Juni 2025 - 14:19 WIB

Satu Suro dan 1 Muharam: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Penjelasan Lengkapnya

Ilustrasi : Satu Suro dan 1 Muharam

Ilustrasi : Satu Suro dan 1 Muharam

Suaradermayu.com – Setiap pergantian tahun Jawa dan tahun Islam, masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, akrab dengan dua istilah yang sering dianggap sama, yaitu Satu Suro dan 1 Muharam. Keduanya memang jatuh di waktu yang hampir bersamaan, bahkan sering kali bertepatan tanggalnya. Namun sebenarnya, terdapat perbedaan mendasar antara malam Satu Suro dan 1 Muharam yang perlu dipahami.

Banyak orang yang masih mengira bahwa malam Satu Suro adalah murni peringatan tahun baru Islam, padahal realitanya, Satu Suro adalah bagian dari kalender Jawa, sedangkan 1 Muharam adalah kalender Hijriah yang digunakan secara resmi oleh umat Islam di seluruh dunia.

Persamaan Antara Satu Suro dan 1 Muharam

Dari sisi waktu, malam Satu Suro dan 1 Muharam memang seringkali jatuh di tanggal yang sama. Hal ini disebabkan karena penanggalan Jawa yang dibuat oleh Sultan Agung Mataram pada abad ke-17 memang diselaraskan dengan kalender Hijriah. Oleh karena itu, setiap pergantian Satu Suro juga bertepatan dengan 1 Muharam.

Keduanya juga sama-sama menjadi momen refleksi dan perenungan diri bagi sebagian masyarakat. Di berbagai daerah, baik peringatan malam Satu Suro maupun 1 Muharam diisi dengan kegiatan spiritual seperti doa bersama, pengajian, maupun tradisi adat yang sudah turun-temurun.

Momentum ini juga sering digunakan oleh masyarakat untuk berdoa meminta keselamatan, keberkahan, dan kebaikan di tahun yang baru. Dengan demikian, Satu Suro dan 1 Muharam sama-sama menjadi waktu yang dianggap sakral dan penuh makna.

Perbedaan Satu Suro dan 1 Muharam

Meski memiliki kesamaan waktu, ada beberapa hal yang membedakan Satu Suro dan 1 Muharam, baik dari sisi sejarah, makna, maupun tradisinya.

1. Sistem Penanggalan yang Berbeda

1 Muharam adalah bagian dari kalender Hijriah yang murni digunakan oleh umat Islam. Kalender Hijriah berbasis peredaran bulan (lunar system) dan ditetapkan berdasarkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.

Sedangkan Satu Suro adalah bagian dari kalender Jawa yang merupakan hasil perpaduan atau sinkretisme antara kalender Hijriah, kalender Saka (Hindu-Budha), dan budaya lokal Jawa. Kalender Jawa ini dirumuskan oleh Sultan Agung, Raja Mataram Islam, dengan tujuan agar masyarakat Jawa tetap memiliki penanggalan sendiri yang selaras dengan penanggalan Islam.

2. Dimensi Keagamaan dan Budaya

Peringatan 1 Muharam lebih bersifat keagamaan Islam. Di berbagai daerah, umat Islam mengisinya dengan kegiatan seperti doa awal tahun, puasa sunnah Asyura pada tanggal 10 Muharam, pengajian, serta kegiatan sosial seperti santunan anak yatim.

Sementara itu, peringatan malam Satu Suro lebih banyak diwarnai oleh tradisi dan budaya lokal, khususnya di Pulau Jawa. Berbagai kegiatan adat seperti kirab pusaka, tirakatan, kungkum (berendam di sungai), topo bisu (berdiam tanpa bicara), hingga sedekah bumi banyak dilakukan oleh masyarakat sebagai bagian dari tradisi turun-temurun.

3. Persepsi Masyarakat

Bagi sebagian besar umat Islam, 1 Muharam adalah momen awal tahun hijriah yang bersifat religius dan suci. Sedangkan malam Satu Suro, terutama bagi masyarakat Jawa, dianggap sebagai waktu yang sakral, bahkan mistis. Banyak masyarakat yang meyakini bahwa malam Satu Suro adalah malam yang penuh aura gaib dan energi spiritual yang kuat.

Karena itu, tidak jarang masyarakat memilih untuk tidak keluar rumah atau melakukan perjalanan jauh pada malam Satu Suro, sebagai bentuk kehati-hatian.

Tradisi di Indonesia Saat Satu Suro dan 1 Muharam

Di berbagai daerah di Indonesia, peringatan malam Satu Suro dan 1 Muharam masih sangat kental terasa, khususnya di daerah-daerah yang masih memegang teguh budaya Jawa.

Di lingkungan pesantren dan masjid, umat Islam mengisi malam 1 Muharam dengan doa bersama, membaca dzikir, shalawat, hingga muhasabah diri untuk menyambut tahun baru Hijriah.

Sementara itu, di beberapa daerah yang masih menjaga tradisi Jawa, malam Satu Suro diramaikan dengan kirab pusaka, jamasan (mencuci benda pusaka), serta ritual-ritual adat lainnya yang dianggap memiliki makna spiritual dan simbol pembersihan diri maupun lingkungan.

Masyarakat Indramayu, sebagai salah satu wilayah dengan perpaduan budaya Jawa dan Islam yang kuat, juga rutin menggelar tradisi seperti selamatan kampung, doa bersama, hingga kegiatan adat yang diwariskan secara turun-temurun setiap malam Satu Suro dan 1 Muharam.

Dua Tradisi yang Layak Dihormati

Satu Suro dan 1 Muharam adalah dua momen yang meski sering dianggap sama, sejatinya memiliki perbedaan baik dari segi penanggalan, makna, maupun tradisinya. Namun keduanya tetap layak dihormati sebagai bagian dari kearifan lokal dan keagamaan yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia.

Memahami perbedaan dan persamaan keduanya dapat menumbuhkan rasa toleransi, menjaga tradisi positif, dan tetap berpijak pada ajaran agama yang benar. Dengan demikian, peringatan malam Satu Suro dan 1 Muharam dapat menjadi momentum yang membawa kebaikan, keselamatan, serta ketenteraman bagi seluruh masyarakat.

 

Share :

Baca Juga

Hikmah

Keutamaan Salawat Al Fatih: Warisan Nabi Muhammad SAW untuk Umat Muslim

Hikmah

Makna Maulid Nabi Muhammad SAW: Momentum Memperkuat Cinta dan Teladan Rasulullah

Hikmah

Kesakralan Sumpah “Demi Allah” dalam Islam: Jangan Sembarangan Mengucapkannya

Edukasi

Abah Ibing Ajak Warga Singaraja Bersatu Usai Pilwu: Damai Itu Indah, Bersatu Itu Ibadah

Hikmah

Iblis Rusak Rumah Tangga, Generasi dan Bangsa Jadi Korban

Hikmah

Malam Nisfu Sya’ban 2025: Keutamaan dan Amalan yang Dianjurkan

Hikmah

Umar bin Khattab: Kisah Sahabat Nabi yang Menginspirasi Kepemimpinan Adil Sepanjang Zaman

Hikmah

Viral! TNI-Polri Memandikan Ibu Sakit, Bikin Haru