Suaradermayu.com – Air laut yang merayap ke pemukiman Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, tak mengenal waktu. Gelombang rob besar itu datang tiba-tiba, menelan rumah-rumah rapuh, dan mengubah tatanan hidup masyarakat pesisir. Bagi warga, bencana ini bukan hal baru, tapi setiap datangnya air pasang tetap meninggalkan luka yang mendalam.
“Dulu di sini masih ada jalan, masih banyak rumah. Sekarang laut sudah sampai depan pintu,” ujar Abdul (52), sambil menatap reruntuhan tembok dan perahu kecil yang tertambat di antara genangan air.
Kehidupan sehari-hari warga kini terdampak serius. Anak-anak harus menyeberangi jalan becek dan genangan air asin menuju sekolah. Nelayan kehilangan tempat menambatkan perahu. Sebagian warga terpaksa pindah karena tak sanggup menanggung kerugian setiap musim pasang.
Mimi Siti (46), warga lain yang kini menumpang di rumah kerabatnya di bagian yang lebih tinggi, menambahkan,
“Kami sudah sering dengar akan dibangun tanggul permanen. Tapi sampai sekarang, belum ada yang benar-benar kokoh. Kalau rob besar datang, karung pasir pun hanyut.”
Rob di Eretan Wetan bukan hanya soal naiknya air laut, tetapi juga merusak ekonomi lokal. Kawasan ini sejatinya merupakan salah satu sentra perikanan Indramayu. Dulu muara Eretan juga menjadi tempat penambatan tentara Jepang.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, hasil tangkapan menurun drastis. Tambak udang dan bandeng kerap rusak akibat luapan air laut yang mencemari tambak dengan kadar garam tinggi.
Di tengah keterbatasan, warga tetap bertahan. Mereka menambal tanggul seadanya, menumpuk karung pasir, dan menanam mangrove meski hasilnya tak instan. Harapan sederhana mereka hanyalah satu: pemerintah benar-benar hadir. Abdul menegaskan, “Yang kami butuhkan bukan hanya bantuan makanan, tapi kepastian tempat tinggal. Kami ingin hidup tenang tanpa takut air laut masuk lagi.”
Pemerintah Kabupaten Indramayu memang telah meminta bantuan Kementerian PUPR untuk membangun tanggul penahan abrasi di beberapa titik. Namun, kondisi pantai yang panjang dan tekanan ombak kuat membuat perlindungan itu belum sepenuhnya terealisasi. Sebagian warga menilai langkah yang dilakukan masih bersifat sementara.
Menanggapi persoalan ini, warga Eretan Wetan berencana menggelar aksi massal pada Jumat, 7 November 2025, mulai pukul 13.00 WIB, sepanjang Jalan Pantura Eretan Wetan. Dalam poster seruan yang beredar, seluruh elemen masyarakat diundang untuk bergabung, termasuk mahasiswa, petani, nelayan, buruh, awak media, pers, jurnalis, dan masyarakat luas dari seluruh Indonesia. Aksi ini diberi tajuk: “Eretan Wetan Menolak Tenggelam”, menuntut Bupati Indramayu, Lucky Hakim, menepati janji dan segera menuntaskan persoalan rob yang telah lama melanda daerah mereka.
Bencana rob Eretan Wetan menjadi pengingat nyata akan dampak perubahan iklim dan ketimpangan pembangunan. Di antara genangan air asin dan rumah-rumah yang hilang, rakyat kecil masih berjuang mempertahankan satu-satunya yang tersisa: tempat untuk pulang. Jeritan mereka bukan sekadar permintaan, tetapi seruan untuk keadilan sosial dan kepastian hidup yang lebih layak. (Mashadi)


























