Home / Indramayu

Minggu, 21 September 2025 - 09:57 WIB

Di Balik Lumbung Padi Nasional, Petani Indramayu Dibebani Utang Triliunan

Para petani Indramayu justru hidup dengan beban utang yang nilainya mencapai Rp 1,5 triliun.

Para petani Indramayu justru hidup dengan beban utang yang nilainya mencapai Rp 1,5 triliun.

Suaradermayu.comIndramayu sejak lama dikenal sebagai lumbung padi nasional. Kabupaten di pesisir utara Jawa Barat ini menyumbang jutaan ton beras setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan pangan negeri. Namun, gemerlap predikat itu menyimpan sisi gelap: para petani justru hidup dengan beban utang yang nilainya mencapai Rp 1,5 triliun.

Data BPS Bongkar Realita

Fakta mengejutkan ini pertama kali diungkap Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAI Pangeran Dharma Kusuma. Mereka mengutip laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Indramayu dalam Angka 2025, yang mencatat sektor pertanian, perburuhan, dan kehutanan memiliki pinjaman di bank umum sebesar Rp 1.493.558.170.494 pada tahun 2023.

“Jangan hanya bangga Indramayu jadi lumbung padi, tapi kesejahteraan petani juga harus dipikirkan. Di balik nasi yang kita makan, ada petani yang terlilit utang triliunan,” tegas Ketua DEMA, Akmal Maulana, saat audiensi dengan DPRD Indramayu.

Mahasiswa menyerahkan policy brief berisi sembilan masalah utama, mulai dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang rendah, keterbatasan akses permodalan, hingga alih fungsi lahan pertanian.

Baca juga  Terkuak! THR Forkopimda Tulungagung Diduga dari Uang Perasan Bupati Gatut

DPRD Kaget, Siap Klarifikasi

Ketua Komisi II DPRD Indramayu, Imron Rosadi, mengaku kaget dengan data utang petani yang fantastis. Meski begitu, ia menilai utang memang sudah jadi tradisi di kalangan petani, khususnya yang menggarap lahan sewa.

“Modal besar dibutuhkan sejak awal musim tanam. Kalau gagal panen, utang jelas menumpuk. Kami akan minta penjelasan dari BPS dan DKPP agar persoalan ini terang benderang,” ujarnya.

Suara Petani: Utang Jadi Jalan Satu-satunya

Bagi petani, utang bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Surarno (42), petani asal Desa Longok, Kecamatan Sliyeg, menuturkan hampir semua petani di desanya bergantung pada pinjaman.

“Kalau nggak utang, ya nggak bisa tanam. Dari sewa sawah, pupuk, sampai bayar buruh, semua pakai modal pinjaman,” katanya dengan nada pasrah.

Hal serupa dialami Darjani, petani lain di Desa Kalianyar Kecamatan Krangkeng. Menurutnya, beban biaya tanam terlalu berat bila hanya mengandalkan tabungan keluarga.

Baca juga  Pansus 5 DPRD Indramayu Tetapkan Syarat Calon Kuwu Tetap SMP, Aturan Baca Al-Qur’an Dihapus

“Banyak warga ngutang buat sewa sawah. Lebih baik garap sendiri walau penuh risiko, daripada cuma jadi buruh tani,” ujarnya.

Darjani menambahkan, akses petani terhadap bank sering terbatas karena syarat administrasi yang rumit. Akibatnya, tak sedikit yang akhirnya meminjam ke tengkulak atau bahkan rentenir, meski bunga yang ditetapkan mencekik.

“Kalau ke bank kadang lama, banyak syarat. Tengkulak dan rentenir lebih cepat, tapi bunganya tinggi. Petani terpaksa karena kalau nggak ada modal, tanam nggak jalan,” ungkapnya.

KTNA: Biaya Modal Tinggi, Petani Terpaksa Ambil KUR

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Indramayu, Sutatang, mengakui mayoritas petani terjerat utang. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang semula dimaksudkan membantu, justru membuat beban pinjaman semakin menumpuk.

“Biaya tanam per hektar bisa Rp 15 juta. Sewa lahan, pupuk, pestisida, semua ditanggung petani. Jadi wajar kalau mereka ngutang. Angka Rp 1,5 triliun itu realistis,” katanya.

Dengan harga gabah di kisaran Rp 7.700 per kilogram, sebenarnya ada harapan untung. Namun risiko gagal panen akibat hama, banjir, atau keterlambatan pupuk kerap membuat keuntungan petani menguap begitu saja.

Baca juga  17 Karyawan per Kopdes Merah Putih, Menkop Tegaskan Prioritas Mutlak Warga Lokal

DKPP: Utang Tak Hanya Petani

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Indramayu, Muhammad Iqbal, menegaskan data BPS memang bersumber dari laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, angka Rp 1,5 triliun itu tak sepenuhnya berasal dari petani, melainkan juga dari pelaku usaha lain seperti penggilingan padi.

“Kami berkomitmen menjaga produktivitas pertanian agar petani tetap mampu melunasi utang sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Tahun 2024, produksi gabah kering panen mencapai 1,7 juta ton. Target 2025 rata-rata bisa 7,3–7,5 ton per hektar,” kata Iqbal.

Lumbung Padi, Lumbung Utang?

Indramayu adalah tulang punggung pangan Indonesia. Namun, ironinya, petani yang menghidupi jutaan perut justru harus hidup dalam pusaran utang triliunan rupiah.

Predikat lumbung padi nasional nyatanya belum menjamin kehidupan petani lebih sejahtera. Di hadapan pemerintah, mahasiswa, DPRD, dan organisasi tani, satu pesan mengemuka: petani tidak boleh terus menjadi pahlawan pangan yang hidup dengan beban utang.

 

Share :

Baca Juga

Indramayu

Miris! Madrasah di Indramayu Ambruk Rata Dengan Tanah, Diterjang Angin Kencang

Indramayu

Tragis! Seorang Petani di Indramayu Tewas Tertabrak Kereta Api

Indramayu

Kios Pupuk di Balongan Terancam Dicabut Izinnya, Diduga Jual di Atas HET: Kementan dan Pupuk Indonesia Bergerak Cepat

Indramayu

Pemkab Indramayu Luncurkan 14 Program Percepatan demi Wujudkan Indramayu Reang, Ini Daftarnya

Indramayu

Kapolsek Losarang Indramayu Bantu Warga Perbaiki Jalan Rusak

Indramayu

Pemkab Indramayu Dukung Koperasi Merah Putih, Bupati Lucky Hakim: Saatnya Desa Bangkit Lewat Ekonomi Rakyat!

Indramayu

Dr. Khalimi Bongkar Fakta Mengejutkan Usai Klarifikasi Anggi Noviah di BK DPRD Indramayu

Indramayu

Anak dan Mantan Istri Bongkar Jejak Aman Yani: Dari Kesaksian Tetangga, KTP, hingga Muncul Mobil Hitam Pajero