Home / Indramayu / Peristiwa

Senin, 10 November 2025 - 08:52 WIB

Detik-Detik Mahasiswa Polindra Terhisap Pusaran Cimanuk: Saksi Mata Ceritakan Kepanikan di Bendungan Bangkir

Penemuan mahasiswa Polindra yang tenggelam di Kali Cimanuk

Penemuan mahasiswa Polindra yang tenggelam di Kali Cimanuk

Suaradermayu.com — Suara teriakan minta tolong terdengar lirih di tengah derasnya aliran Sungai Cimanuk, Sabtu siang (8/11/2025). Dari kejauhan, Junedi (48), penjaga Bendungan Karet Bangkir, berlari menuju sumber suara. Ia tidak menyangka langkahnya akan membawanya menyaksikan peristiwa paling mencekam dalam hidupnya.

Di depan matanya, sebuah perahu karet berisi tujuh mahasiswa Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) terombang-ambing di tengah pusaran air besar. Arus kuat membuat perahu tak mampu keluar dari lingkaran maut yang menggulung air kecokelatan itu.

“Waktu saya sampai, perahu mereka sudah di tengah pusaran. Tiga orang masih kelihatan di atas, dua perempuan dan satu laki-laki. Mereka berusaha bertahan, tapi arusnya kuat sekali,” tutur Junedi dengan suara gemetar saat ditemui Suaradermayu.com, Minggu (9/11/2025).

Panik di Tepi Sungai: Arus Deras, Warga Tak Berdaya

Junedi hanya bisa menatap dari tepian bendungan. Arus yang berputar cepat membuat siapa pun tak mungkin terjun membantu tanpa mempertaruhkan nyawa.

“Kami panik, tapi kalau nekat masuk bisa ikut terseret. Kami hanya bisa berteriak, berharap mereka tetap bertahan,” ujarnya.

Baca juga  LBH Ghazanfar: Penasehat Hukum Ririn Rifanto Wajib Bongkar Keabsahan Dokumen Hasil Tes DNA Darah di Depan Hakim Sidang Paoman

Selama hampir lima puluh menit, perahu itu terperangkap dalam pusaran. Seorang rekan Junedi berinisiatif menutup pintu air bendungan agar arus mereda. Upaya itu membuahkan hasil—air perlahan tenang, perahu pun terlepas dan hanyut menuju tepian sungai.

Namun kelegaan itu hanya sesaat. Dari tujuh mahasiswa yang ikut kegiatan rafting, lima berhasil selamat, sedangkan dua lainnya—Agung Septiadi dan Muhammad Lana Wiratno—hilang terbawa arus.

Latihan Rafting yang Berujung Tragedi

Menurut keterangan warga, para mahasiswa tersebut tengah mengikuti latihan praktik lapangan olahraga arus deras sebagai bagian dari kegiatan Komunitas Mahasiswa Pencinta Alam (KOMPA) Polindra.

Cuaca awalnya cerah, hingga tiba-tiba arus sungai berubah drastis setelah debit air meningkat dari hulu.

“Awalnya lancar, tapi mendadak air deras sekali. Perahu mereka terseret ke pusaran di bawah bendungan,” ungkap seorang warga yang turut menyaksikan peristiwa itu.

Tim SAR Menyisir Sungai Cimanuk

Sejak Sabtu sore, tim SAR gabungan dari Basarnas, Sat Polairud Polres Indramayu, BPBD, Tagana, dan relawan terus melakukan pencarian di sepanjang Sungai Cimanuk.

Baca juga  Jelang Musim Haji, Kapolres Indramayu Cek Kesiapan Akhir Asrama Haji

Mereka menurunkan perahu karet, peralatan selam, dan drone pendeteksi panas untuk memperluas area pencarian hingga radius beberapa kilometer.

Kepala Kantor SAR Bandung, melalui Komandan Pos SAR Cirebon Eddy Sukamto, menyebut medan di lokasi sangat menantang.

“Arus di bawah bendungan berputar, banyak batu besar, jadi kami harus hati-hati agar tak membahayakan tim,” ujarnya.

Akhir Pencarian: Dua Mahasiswa Ditemukan Tak Bernyawa

Setelah dua hari penyisiran tanpa henti, pencarian berakhir pada Senin (10/11/2025) dini hari.
Korban pertama, Agung Septiadi, ditemukan pukul 21.50 WIB di sekitar Bendungan Karet Bangkir, lokasi awal terjadinya kecelakaan.

“Korban pertama muncul di permukaan air. Kami sempat membuka dan menutup pintu air agar tubuh korban terdorong ke pinggir,” jelas Eddy.

Beberapa jam kemudian, pukul 00.30 WIB, tim kembali menemukan korban kedua, Muhammad Lana Wiratno, di Blok Gandok, Desa Panyindangan Kulon, Kecamatan Sindang, sekitar lima kilometer dari titik awal kejadian.
“Dengan ditemukannya korban kedua, operasi SAR resmi ditutup,” tambahnya.–

Baca juga  Banjir Kepung Pusat Kota Indramayu, BPBD: Drainase Kota Tak Mampu Tampung Genangan Air

Sungai Cimanuk, Indah tapi Berbahaya

Sungai Cimanuk dikenal sebagai salah satu sungai besar yang membelah wilayah Indramayu. Namun di balik keindahannya, arus sungai ini menyimpan bahaya tersembunyi.
Di beberapa titik, terutama di sekitar bendungan karet, arus bisa membentuk pusaran air mendadak ketika debit naik dari hulu.

Tim SAR menilai, faktor alam menjadi penyebab utama kecelakaan ini, namun evaluasi keamanan kegiatan mahasiswa di area sungai akan dilakukan oleh pihak kampus dan aparat setempat.

“Cimanuk itu tidak bisa ditebak. Air bisa berubah dalam hitungan menit. Harus benar-benar waspada,” pesan Junedi, saksi mata yang masih trauma dengan kejadian itu.

Tragedi di Sungai Cimanuk meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan civitas akademika Polindra.

Namun di balik duka itu, tersimpan pesan abadi: cinta alam harus berjalan seiring dengan kewaspadaan dan keselamatan.

Dua mahasiswa Polindra kini telah berpulang, tapi semangat mereka untuk mencintai alam dan menantang diri di tengah derasnya arus akan selalu hidup dalam ingatan rekan-rekannya.(Mashadi)

 

Share :

Baca Juga

Indramayu

Dirut Perumdam Tirta Darma Ayu Indramayu, Ady Setiawan, Benarkan Pengunduran Diri

Indramayu

Bupati Indramayu Gandeng KPK Cegah Korupsi Terintegrasi

Indramayu

Polisi Meringkus Pria Diduga Bunuh Wanita Muda di Indramayu

Indramayu

Mahasiswa Soroti Banjir Indramayu: Tata Kelola dan Perencanaan Wilayah Dinilai Bermasalah

Ekonomi

Indramayu Tempat Ramah bagi Investor, Pabrik Sepatu PT. SBL Resmi Berdiri di Krangkeng

Indramayu

Ketua DPRD Indramayu Tanggapi Santai Tantangan Debat Terbuka dari Lucky Hakim

Indramayu

Saksi Tergugat Justru Kuatkan Dalil Gugatan, Akta Jual Beli Terancam Cacat Hukum

Indramayu

Janji Tinggal Janji? Setahun Kepemimpinan Lucky–Syaefudin Disorot, Realisasi Dinilai Jauh dari Harapan