Home / Terpopuler

Sabtu, 1 Maret 2025 - 04:36 WIB

Buku Tahunan SMA Mahal, Dedi Mulyadi Minta Beralih ke Digital: Lebih Murah dan Efisien

Siswi SMAN 7 Cirebon, Hanifah bersama Dedi Mulyadi

Siswi SMAN 7 Cirebon, Hanifah bersama Dedi Mulyadi

Suaradermayu.com – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti tingginya biaya pembuatan buku tahunan atau buku angkatan bagi siswa SMA di wilayahnya. Ia menilai biaya yang mencapai ratusan ribu rupiah per siswa cukup membebani, sehingga muncul wacana untuk mengganti buku tahunan dalam bentuk digital.

Hal ini disampaikan Dedi setelah mendengar keluhan dari Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Purwakarta, Asep Mulyana. Dalam pertemuan tersebut, Asep mengungkapkan berbagai kendala yang dihadapi siswa, mulai dari biaya pendidikan, penyelenggaraan wisuda, hingga mahalnya album kenangan.

Asep menjelaskan bahwa biaya pembuatan buku tahunan bisa mencapai Rp 150 ribu hingga Rp 450 ribu per siswa. Biaya ini mencakup berbagai elemen, seperti foto per kelas, foto satu angkatan, serta dokumentasi bersama guru dan kepala sekolah.

Baca juga  Ihsan Mahfudz : Peran Strategis Pers dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

“Album kenangan itu mahal juga. Anak-anak harus mengeluarkan uang cukup besar hanya untuk sebuah buku,” ujar Asep.

Menanggapi hal ini, Dedi Mulyadi pun mempertanyakan apakah sekolah ikut mengelola buku tahunan tersebut. Namun, Asep menegaskan bahwa sekolah, guru, dan komite tidak terlibat dalam pengelolaannya, karena hal itu murni diinisiasi oleh para siswa.

Baca juga  Toni RM Laporkan Oknum Penyidik Polres Kutai Timur ke Mabes Polri atas Dugaan Rekayasa Barang Bukti

Asep Mulyana mengusulkan agar buku tahunan tidak dilarang, tetapi dialihkan ke dalam bentuk digital. Menurutnya, penyimpanan foto dan kenangan sekolah bisa dilakukan melalui platform seperti Google Drive, yang jauh lebih murah dibandingkan versi cetak.

“Kalau digital, cukup dengan Rp 25 ribu, uang jajan siswa saja sudah cukup,” ujarnya.

Dedi Mulyadi pun menyetujui gagasan ini. Ia mengakui bahwa dirinya juga menyimpan kenangan anaknya secara digital untuk menghindari risiko kehilangan atau kerusakan seiring waktu.

“Saya menyimpan seluruh kenangan anak saya di Google Drive, karena kalau dalam bentuk album fisik, bisa hilang atau rusak,” kata Dedi.

Baca juga  Teriakan Warga Pecah Sore Hari, Terduga Maling Motor Babak Belur Diamankan Polisi di Singajaya

Meskipun ide ini mendapat dukungan, Asep menekankan bahwa perubahan ke digital mungkin belum bisa diterapkan secara langsung tahun ini. Namun, ke depan, ia berharap konsep ini dapat diterapkan di seluruh sekolah di Jawa Barat agar lebih hemat dan efisien.

“Kita sudah tanggung untuk tahun ini, tapi ke depan bisa kita arahkan ke digital,” ujar Asep.

Dengan adanya wacana digitalisasi buku tahunan, diharapkan siswa tetap bisa mengabadikan momen penting mereka tanpa harus terbebani biaya tinggi. Pemerintah daerah pun diharapkan dapat mengeluarkan kebijakan yang mendukung implementasi solusi ini.

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Bupati Lucky Hakim Tinjau Pembangunan Pabrik Sepatu PT. SBL di Krangkeng, Siap Serap 18.000 Tenaga Kerja

Terpopuler

Ketua Pembina Yayasan Griya Aswaja Gelar Buka Puasa Bersama Anak Yatim, Penuh Haru dan Kebahagiaan

Teknologi

Polindra dan Hakli Kerjasama Pamsa dan Optimalisasi Water Quality Control Digital

Terpopuler

Pilwu Serentak Indramayu 2025 Ditunda, Kemendagri : Tunggu Aturan Teknis UU Desa

Terpopuler

Ketua Pembina Griya Aswaja Indramayu Ucapkan Selamat kepada Bupati dan Wakil Bupati yang Baru Dilantik

Hukum

Dugaan Mark Up MBG Disorot, KPK Petakan Celah Korupsi

Indramayu

Ketua NU Indramayu Sebut Al Zaytun Bukan Bagian dari NU

Terpopuler

Viral, Stiker Keluarga Miskin Penerima Bansos Ditempel di Rumah-rumah Mewah di Indramayu