Home / Indramayu / Sorotan / Terpopuler

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:41 WIB

LBH Ghazanfar: Kecerdasan Penyidik Polisi Diuji, Misteri Pajero Hitam dari Keterangan Ririn, Egga dan Ruslandi Terkuak

Suaradermayu.com – Ketua LBH Ghazanfar, Pahmi Alamsah, kembali menyoroti polemik keberadaan mobil Pajero hitam yang dikaitkan dengan nama Aman Yani.

Menurutnya, rangkaian keterangan yang kini muncul ke publik seharusnya menjadi perhatian serius aparat penyidik karena terdapat sejumlah fakta dan pola yang perlu diuji secara mendalam menggunakan insting serta naluri seorang investigator.

Pahmi menjelaskan bahwa hingga saat ini terdapat beberapa keterangan berbeda namun saling beririsan, mulai dari pengakuan terdakwa Ririn Rifanto, keterangan anak kandung Aman Yani yakni Egga Ayu Aryani, hingga klarifikasi Sri Wahyu bersama pengacara Ruslandi terkait mobil Pajero hitam berpelat KT.

Menurutnya, dalam dunia investigasi, seorang penyidik tidak boleh hanya melihat satu keterangan secara berdiri sendiri, melainkan harus mampu membaca keterhubungan antar informasi, pola pergerakan, hubungan antar orang, hingga kecocokan waktu dan lokasi kejadian.

“Di sinilah sebenarnya insting dan naluri investigator diuji. Penyidik harus mampu membaca apakah semua keterangan ini hanya kebetulan biasa atau justru ada rangkaian fakta yang saling berkaitan,” ujar Pahmi.

Ia menjelaskan bahwa keterangan pertama datang dari Ririn Rifanto yang mengaku bertemu Aman Yani pada 26 Agustus 2025 di kawasan Kuliner Cimanuk Indramayu, tepat dua hari sebelum tragedi pembunuhan satu keluarga di Paoman terjadi pada 28 Agustus 2025.

Dalam pengakuannya, Ririn menyebut Aman Yani datang menggunakan mobil Pajero hitam. Meski demikian, Ririn tidak menjelaskan secara rinci nomor polisi kendaraan tersebut.

“Kalau dilihat dari sudut pandang investigator, penyidik tentu tidak boleh berhenti hanya karena nomor pelat kendaraan tidak disebut. Justru di situlah naluri penyidik bekerja untuk mencari kecocokan dengan fakta-fakta lain yang muncul,” kata Pahmi.

Menurutnya, beberapa waktu kemudian muncul keterangan dari Egga Ayu Aryani yang mengaku sering melihat mobil Pajero hitam berpelat KT terparkir di sekitar rumah Ahmad Yasin yang disebut sebagai ayah kandung Aman Yani.

Bahkan, Egga mengaku melihat kendaraan tersebut lebih dari lima kali, baik pada sore maupun malam hari.

“Ini menjadi menarik dalam perspektif investigasi. Karena ada kendaraan dengan jenis dan warna yang sama muncul dalam dua keterangan berbeda,” jelasnya.

Pahmi menilai penyidik seharusnya mulai mengurai apakah mobil yang disebut Ririn dan kendaraan yang dilihat Egga merupakan kendaraan yang sama atau berbeda. Sebab menurutnya, di dalam sebuah penyelidikan, detail kecil seperti jenis kendaraan, lokasi parkir, waktu kemunculan, hingga hubungan keluarga dapat menjadi petunjuk penting.

“Seorang investigator yang tajam tidak akan menganggap informasi seperti ini sekadar cerita biasa. Naluri penyidik harus bekerja membaca pola,” ujarnya.

Baca juga  Perempuan Dibakar Suami di Indramayu, Bupati Lucky Hakim Turun Tangan: Ini Kata-Katanya yang Bikin Merinding

Ia melanjutkan, situasi semakin menarik ketika muncul klarifikasi dari Sri Wahyu yang mengaku sebagai pemilik Pajero hitam berpelat KT tersebut. Dalam video yang beredar bersama pengacara Ruslandi, Sri Wahyu mengakui mobil itu memang sering berada di sekitar rumah Ahmad Yasin karena dirinya rutin mengunjungi ibunya yang rumahnya berada di samping rumah Ahmad Yasin.

Tidak hanya itu, Sri Wahyu juga mengaku dirinya merupakan cucu Ahmad Yasin. Artinya, secara hubungan keluarga, Sri Wahyu masih memiliki keterkaitan langsung dengan Aman Yani.

“Kalau kita rangkai seluruh keterangannya, di sini naluri investigator benar-benar diuji. Ada hubungan keluarga, ada kendaraan yang sama-sama disebut Pajero hitam, ada lokasi rumah Ahmad Yasin, ada pengakuan kendaraan sering parkir di situ, lalu ada pengakuan pertemuan dengan Aman Yani sebelum tragedi pembunuhan. Semua ini tentu harus dicocokkan secara utuh,” papar Pahmi.

Menurutnya, tugas penyidik bukan sekadar menerima bantahan atau pengakuan, melainkan menguji setiap pernyataan dengan metode investigasi yang objektif.

“Penyidik harus mampu masuk ke detail-detail kecil. Misalnya kapan kendaraan itu datang, siapa yang menggunakannya, siapa saja yang pernah melihat langsung, apakah ada saksi lain di sekitar lokasi, apakah ada rekaman CCTV, apakah ada jejak komunikasi, hingga bagaimana pola pergerakan kendaraan tersebut,” katanya.

Pahmi menilai insting investigator justru terlihat ketika penyidik mampu membaca kontradiksi, celah, ataupun kecocokan dari berbagai keterangan yang muncul.

“Karena dalam banyak perkara besar, fakta itu sering tidak muncul secara utuh di awal. Kadang hanya berupa potongan-potongan kecil yang harus dirangkai satu per satu oleh penyidik,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa penyidik harus berhati-hati agar tidak terjebak pada asumsi maupun opini publik semata. Menurutnya, penyidik harus tetap berpijak pada fakta, tetapi juga tidak boleh mengabaikan informasi yang secara logika investigatif memiliki keterkaitan.

“Insting investigator itu bukan berasumsi liar, tetapi kemampuan membaca kemungkinan berdasarkan fakta-fakta yang muncul. Maka seluruh keterangan ini harus diuji, diverifikasi, lalu dicocokkan secara ilmiah dan profesional,” tegasnya.

Pahmi menilai publik saat ini menunggu sejauh mana aparat penegak hukum mampu membongkar secara terang berbagai misteri yang masih menyelimuti keberadaan Aman Yani.

Apalagi, kata dia, terdapat fakta bahwa Aman Yani disebut telah hilang sejak 2016, namun di sisi lain muncul pengakuan dari sejumlah pihak yang mengaku masih pernah bertemu atau melihat sosok yang diyakini sebagai Aman Yani pada tahun 2025.

Baca juga  Massa Aliansi Topi Jerami Tuntut Pencopotan Dirut PDAM Indramayu

“Ini tentu menjadi tantangan besar bagi penyidik. Bagaimana menjelaskan seseorang yang disebut hilang sejak 2016 tetapi kemudian muncul berbagai pengakuan pernah bertemu di tahun 2025. Di sinilah kecerdasan, insting, dan naluri investigator benar-benar diuji,” ucap Pahmi.

Ia mengatakan bahwa masyarakat tentu berharap penyidik mampu membuka seluruh fakta secara terang agar tidak terus menimbulkan spekulasi berkepanjangan di ruang publik.

“Karena kalau dibiarkan menggantung, masyarakat akan terus membangun asumsi sendiri-sendiri. Maka penyidik harus hadir dengan kerja investigasi yang tajam, objektif, dan mampu menjawab seluruh tanda tanya yang ada,” pungkasnya.

Sebelumnya beredar di publik menurut keterangan salah satu terdakwa kasus pembunuhan satu keluarga di Paoman Indramayu, Ririn Rifanto, dirinya mengaku sempat bertemu dengan Aman Yani sebelum peristiwa pembunuhan yang terjadi pada 28 Agustus 2025.

“Pertemuan Aman Yani dengan Ririn dan Priyo itu pada 26 Agustus 2025 di lokasi Kuliner Cimanuk Indramayu,” ungkapnya.

Sementara itu, anak kandung Aman Yani, Egga Ayu Aryani, bersama ibunya, Saminah, pada Rabu, 21 Mei 2026, memenuhi panggilan penyidik Satreskrim Polres Indramayu didampingi kuasa hukumnya, Toni RM.

Dalam keterangannya kepada penyidik, Egga mengaku pernah melihat sebuah mobil yang diduga dikendarai Aman Yani berada di sekitar rumah kakeknya.

“Terakhir aku melihat mobil Pajero warna hitam, plat nomornya itu KT,” ungkap Egga.

“Parkirnya di seberang rumah Made Yasin, panggilan untuk kakek saya. Itu bapaknya Pak Aman Yani,” lanjutnya.

Egga mengatakan dirinya beberapa kali melihat mobil Pajero hitam tersebut berada di lokasi tersebut, baik pada sore hingga malam hari.

“Sering kali melihat, lebih dari lima kali,” ucapnya.

Ia kemudian mengaitkan temuannya dengan rekaman video milik kuasa hukumnya, Toni RM, yang sebelumnya sempat viral di media sosial. Dalam video tersebut, Toni RM menyebut Ririn pernah bertemu Aman Yani menggunakan mobil Pajero hitam di kawasan Kuliner Cimanuk pada Mei 2025.

“Setelah video viral itu tersebar, sampai sekarang aku sudah tidak melihat lagi mobil Pajero hitam itu,” jelasnya.

Sementara itu, melalui rekaman video yang beredar, pengacara Ruslandi memberikan penjelasan terkait keberadaan mobil Pajero hitam berpelat KT yang belakangan menjadi sorotan publik setelah dikaitkan dengan sosok Aman Yani. Penjelasan tersebut disampaikan bersama pemilik kendaraan, Sri Wahyu, guna meluruskan berbagai informasi yang berkembang di tengah masyarakat.

Baca juga  Banjir Kepung Pusat Kota Indramayu, BPBD: Drainase Kota Tak Mampu Tampung Genangan Air

Menurut Ruslandi, pernyataan yang menyebut mobil Pajero hitam tersebut sering digunakan oleh Aman Yani sebagaimana disampaikan anak kandung Aman Yani, Egga Ayu Aryani, tidak sesuai dengan kenyataan.

“Hal itu tidak benar. Memang sempat ada beberapa kali digunakan Pak Aman Yani, tetapi saat itu disebut-sebut seolah memakai topi, masker, kacamata dan jaket,” kata Ruslandi.

Ruslandi menjelaskan bahwa rumah ibu kandung Sri Wahyu berada tepat di samping rumah Ahmad Yasin. Karena hubungan keluarga tersebut, menurutnya wajar apabila Sri Wahyu sering datang berkunjung menggunakan mobil Pajero miliknya.

“Karena dia memang cucunya Pak Ahmad Yasin, jadi wajar menengok keluarganya,” ujar Ruslandi.

Sementara itu, Sri Wahyu mengaku dirinya memang kerap menggunakan mobil Pajero hitam tersebut untuk pergi ke rumah ibunya di wilayah Penganjang. Ia bahkan masih mengingat waktu terakhir kali menggunakan kendaraan tersebut.

“Terakhir kali ke Penganjang membawa Pajero itu tanggal 15 Mei 2026 malam Jumat. Berbeda dengan keterangan Egga yang menyebut melihat terakhir akhir April 2026,” kata Sri Wahyu.

Sri Wahyu juga membenarkan bahwa mobil Pajero miliknya sering terparkir di samping rumah Ahmad Yasin ketika dirinya berkunjung ke rumah sang ibu di Penganjang.

Ruslandi menegaskan, penjelasan tersebut disampaikan agar publik memahami bahwa keberadaan mobil Pajero hitam di lokasi tersebut tidak berkaitan dengan dugaan keberadaan Aman Yani.

“Jadi tidak usah lagi ada hal-hal yang membuat gaduh terkait keberadaan mobil Pajero itu. Pemiliknya Ibu Ayu, dan kendaraan itu terparkir di situ karena sedang menengok orang tuanya,” kata Ruslandi.

Di sisi lain, Sri Wahyu mengaku merasa terganggu dengan berbagai pemberitaan yang mengaitkan mobil Pajero miliknya dengan isu yang berkembang. Ia menyebut dampak pemberitaan tersebut telah memengaruhi kenyamanan pribadi maupun keluarganya.

“Jujur dengan pemberitaan ini saya merasa terganggu privasi saya dan kenyamanan keluarga saya. Jadi stop berasumsi bohong dan berita hoaks sebelum mencari kebenarannya dulu,” ujar Sri Wahyu.

Terkait persoalan hilangnya Aman Yani, Ruslandi menegaskan bahwa hal tersebut sepenuhnya diserahkan kepada aparat kepolisian untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Kalau memang Pak Aman Yani sudah hilang, apakah hilangnya karena musibah atau hal lain, biarlah nanti penyelidikan pihak berwajib yang menentukan,” kata Ruslandi.

Diketahui, Satreskrim Polres Indramayu saat ini tengah melakukan penyelidikan terkait keberadaan Aman Yani berdasarkan dua laporan yang masuk, yakni laporan dari pengacara Ruslandi serta laporan dari pihak Bank BJB. (Red/Waryadi)

Share :

Baca Juga

Indramayu

Direksi Baru PDAM Indramayu Siap Tingkatkan Kinerja dan Pelayanan Air Minum

Indramayu

Nelayan Indramayu Keluhkan Sulitnya Solar Subsidi, Teten Masduki Janji Bangun SPBU Nelayan

Terpopuler

Abdul Rohman Dipecat, DPC PDIP Indramayu: Miliki KTA Partai Lain

Indramayu

Mengenal Sosok Pasangan Lucky Hakim : Syaefudin ‘REANG’ Banget

Terpopuler

SMSI Gaungkan Suara Media Daerah di World Press Freedom Day 2025

Terpopuler

Ratusan Kapal Nelayan Padati Pelabuhan Karangsong, Indramayu Jelang Lebaran

Terpopuler

Wabup Indramayu Syaefudin Hadiri Panen Raya Bersama Presiden Prabowo di Majalengka

Terpopuler

Biaya Lapor Polisi: Benarkah Harus Bayar? Ini Faktanya!