Home / Indramayu / Kriminalitas / Terpopuler

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:49 WIB

Zulhelpi Ngaku Ramai-ramai Dobrak Paksa Rumah Korban H. Sahroni di Paoman; LBH Ghazanfar: Kenapa Tidak Ada Sidik Jarinya?

Suaradermayu.com – Kasus pembunuhan sadis satu keluarga yang menewaskan Haji Sahroni (75), Budi (45), Euis (40), serta dua anak di bawah umur di Paoman, Kabupaten Indramayu, kembali menyisakan tanda tanya besar soal jejak sidik jari.

Zulhelpi, yang mengaku sebagai keponakan korban Budi, mengungkapkan kronologi penemuan jasad dalam kanal YouTube Curhat Bang Denny Sumargo berjudul “KALIAN SUDAH YAKIN SIAPA PELAKUNYA?”. Ia menyebutkan, sekitar enam orang teman istri Budi mulai khawatir karena tidak dapat menghubungi korban, lalu berusaha mencari keberadaan kerabat.

Menurut Zulhelpi, sekitar pukul 16.00 WIB, ia bersama istrinya Rohaemah, enam orang teman istri Budi, Niko, Pina, serta tiga orang tukang—berjumlah total sekitar sepuluh orang—mendobrak paksa pintu rumah karena merasa curiga suasana terlihat sepi.

Selama hampir tiga setengah jam sebelum polisi tiba sekitar pukul 19.30 WIB, kelompok tersebut memeriksa seluruh bagian rumah, mulai dari kamar tidur Euis, kamar Haji Sahroni, tangga lantai atas, hingga area dapur.

Baca juga  Hasil Rekapitulasi KPU, Lucky-Syaefudin Unggul di Seluruh Wilayah Indramayu

Bahkan, sesaat setelah salat Maghrib, Rohaemah membuka pintu samping menuju tempat sarang walet dengan tangan kosong, lalu mengambil gagang pisau tua untuk mengorek gundukan tanah hingga tampak bagian tubuh manusia.

“Terlihat paha Pak Haji (H. Sahroni). Waktu itu malam, saya pakai senter HP, terlihat paha Pak Haji…” ujar Zulhelpi kepada Denny Sumargo.

“Apakah merasa panik?” tanya Denny.

“Tidak panik. Kami suruh semua orang keluar agar tidak banyak meninggalkan jejak,” jawab Zulhelpi.

Menanggapi hal itu, Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ghazanfar, Pahmi Alamsah, menegaskan bahwa aktivitas sedikitnya sepuluh orang yang menyentuh gagang pintu depan, pintu geser, botol rokok elektrik, gagang pintu kamar, mendorong pintu dapur, serta memegang gagang pisau, secara otomatis menimbulkan jejak yang saling tumpang tindih. Hal ini dapat menghapus atau menutupi sidik jari pelaku asli.

Baca juga  Desa Disegel Warga: Ketika Kepercayaan pada Pemimpin Menguap di Sukaslamet

“Secara hukum alam, Tempat Kejadian Perkara sudah terkontaminasi berat saat pengambilan sidik jari dilakukan. Ada puluhan bahkan ratusan jejak yang saling bertumpuk. Itulah alasan ilmiah mengapa tim Prudent Bareskrim Polri dan INAFIS Polda Jabar harus turun dan melakukan olah TKP hingga empat kali berturut-turut,” jelas Pahmi.

Namun muncul kejanggalan serius dalam berkas dakwaan. Alih-alih melampirkan laporan resmi yang menyatakan sidik jari di lokasi rusak total dan tidak dapat diidentifikasi, petugas INAFIS Polres Indramayu, Denis, justru membuat pernyataan sepihak: di antara banyaknya jejak yang rusak, secara ajaib hanya ditemukan satu sidik jari utuh milik Ririn Rifanto.

“Ini mustahil! Bagaimana bisa sidik jari Zulhelpi, Rohaemah, dan orang-orang lainnya hilang begitu saja, sedangkan jejak satu orang tertentu justru tercatat utuh bersih tanpa gangguan? Ini bukti adanya rekayasa untuk menjerat seseorang dan menutupi pelaku sesungguhnya,” tegas Pahmi.

Baca juga  Bantuan Pendidikan Dihentikan, Sekolah Swasta Indramayu Mengaku Tertekan Kebijakan Pemprov Jabar

Selain soal sidik jari, LBH Ghazanfar juga menyoroti pernyataan Zulhelpi soal identifikasi jasad. Ia menyebutkan: “Terlihat paha Pak Haji… karena malam saya pakai senter HP.”

Menurut Pahmi, berdasarkan ilmu anatomi dan forensik, bentuk paha orang dewasa secara umum memiliki kemiripan. Tanpa melihat wajah atau tanda fisik khusus, secara ilmiah mustahil seseorang dapat langsung mengenali dan menyebutkan nama pemiliknya hanya dengan melihat sekilas menggunakan cahaya senter di kegelapan.

“Belum lagi jasad yang terkubur beberapa hari sudah mengalami pembusukan, sehingga bentuknya berubah dan sulit dikenali. Secara psikologi forensik, kemampuan menebak secara akurat tanpa bukti jelas menunjukkan adanya pengetahuan sebelumnya. Apakah ia sudah mengetahui bahwa yang terkubur adalah Haji Sahroni sebelum tanah digali?” pungkasnya. (Tim Redaksi)

Share :

Baca Juga

Terpopuler

3 Hektare Tebu Dirusak di Sukamulya Indramayu, Petani Desak Polisi Bertindak

Hukum

KPK Alihkan Penahanan Eks Menag Yaqut dari Rutan ke Tahanan Rumah, Kasus Kuota Haji Berlanjut

Indramayu

Kasus Kuwu Salamun,Toni RM Ancam Laporkan Kapolres Indramayu ke Propam Mabes Polri

Indramayu

Kapolres Indramayu Kunjungi Keluarga Petugas TPS yang Meninggal Usai Pilkada 2024

Terpopuler

Pemkab Indramayu Klaim Selama Tiga Tahun Telah Kantongi Investasi Rp 4,8 T

Indramayu

LPK Bos Korea Diduga Ilegal, LBH Ghazanfar: Disnaker Indramayu Harus Tindak Tegas

Indramayu

Rumah Pasutri Lansia di Indramayu Ludes Terbakar, Diduga Akibat Api dari Dapur

Indramayu

Patroli KRYD Polres Indramayu Sita 145 Botol Miras Ilegal, Cegah Kejahatan Jalanan