Suaradermayu.com – Dulu, minyak goreng bekas langsung dibuang ke selokan. Tak terpikir nilainya, apalagi dampaknya.
Kini, di sudut-sudut kampung Indramayu, minyak jelantah justru disimpan rapi dalam botol plastik—menunggu disetor ke bank sampah dan berubah menjadi tabungan kecil yang berarti.
Dari dapur rumah tangga, kesadaran menjaga lingkungan perlahan tumbuh.
Selama ini, minyak jelantah kerap dipandang sebagai limbah tak berguna. Padahal, jika dibuang sembarangan, minyak bekas dapat merusak kualitas tanah, mencemari air, dan mematikan mikroorganisme yang berperan menjaga keseimbangan lingkungan.
Melihat dampak tersebut, Pemerintah Kabupaten Indramayu mendorong masyarakat untuk mengubah kebiasaan lama. Minyak jelantah tidak lagi dibuang, melainkan dikumpulkan dan disetorkan ke bank sampah untuk dikelola kembali.
Melalui program pengumpulan minyak jelantah, warga tidak hanya berkontribusi dalam menjaga lingkungan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi. Minyak bekas pakai yang terkumpul akan diolah kembali sehingga memiliki nilai guna, sekaligus menekan risiko pencemaran.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu melalui stafnya, Intan, menyampaikan bahwa pengelolaan minyak jelantah menjadi salah satu langkah konkret dalam pelestarian lingkungan berbasis partisipasi masyarakat.
“Limbah rumah tangga seperti minyak jelantah sering dianggap sepele. Padahal jika dikelola dengan benar, bisa mencegah pencemaran dan memberikan nilai ekonomi. Kami berharap kesadaran masyarakat terus meningkat,” ujar Intan.
Salah satu bank sampah yang aktif mengelola minyak jelantah adalah Bank Sampah Rumah Hijau di Kecamatan Sindang. Setiap bulannya, bank sampah ini mencatat penerimaan minyak jelantah rata-rata mencapai 63 kilogram dengan harga Rp 4.000 per kilogram.
Menariknya, sistem yang diterapkan berupa tabungan. Warga dapat mencairkan hasil setoran minyak jelantah setelah enam bulan atau ketika saldo tabungan mencapai Rp 50.000. Dengan skema ini, limbah dapur berubah menjadi simpanan yang bisa dirasakan manfaatnya.
Tak hanya melibatkan rumah tangga, Bank Sampah Rumah Hijau juga menjalin kerja sama dengan pedagang kaki lima dan kedai makanan. Penjemputan minyak jelantah dari para mitra dilakukan secara berkala dengan jumlah lebih besar, rata-rata di atas 20 kilogram setiap pengambilan. Sementara itu, nasabah rumah tangga umumnya menyetor minyak jelantah sebulan sekali pada pekan terakhir.
Program serupa juga dijalankan Bank Sampah Jembangan Jaya di Kecamatan Lemahabang. Di lokasi ini, minyak jelantah dari warga dihargai Rp 3.000 per 600 mililiter, atau setara satu botol air mineral. Dalam sebulan, rata-rata terkumpul sekitar 10 hingga 15 liter.
Proses penyetoran di Bank Sampah Jembangan Jaya dilakukan dengan cara nasabah datang langsung ke lokasi bank sampah, biasanya pada akhir bulan. Meski jumlahnya belum besar, pengelola menilai kebiasaan ini menjadi langkah awal penting dalam membangun kesadaran pengelolaan limbah rumah tangga.
Perlahan namun pasti, cara pandang masyarakat Indramayu terhadap minyak jelantah mulai berubah. Dari limbah yang dulu dibuang, kini menjadi sumber nilai—menjaga lingkungan sekaligus menambah tabungan keluarga.Tak Lagi Dibuang, (Nadzif)


























