Home / Terpopuler / Hukum

Minggu, 3 Mei 2026 - 21:16 WIB

Puluhan Kiai Pesantren di Jabar Ngaku Ditipu Program MBG

Suaradermayu.com – Puluhan kiai pengasuh pondok pesantren di Jawa Barat mengaku menjadi korban dugaan penipuan berkedok program dapur MBG (Makan Bergizi Gratis).

Sedikitnya 13 perwakilan pesantren telah mendatangi Lembaga Bantuan Hukum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor pada Kamis (30/4/2026) guna melaporkan kasus tersebut sekaligus meminta pendampingan hukum.

Para pengasuh menyebut pihak yang diduga terlibat mengatasnamakan Koperasi Santri Nusantara atau Dapur Santri Nusantara (DSN). Program yang ditawarkan berupa pembangunan dapur MBG berbasis SPPG yang diklaim sebagai mitra Badan Gizi Nasional, sehingga menarik minat banyak pesantren untuk ikut serta.

Dalam praktiknya, pesantren diminta mengajukan proposal dengan syarat memiliki lahan minimal 400 meter persegi. Selain itu, mereka juga diwajibkan membayar biaya pendaftaran sekitar Rp1,5 juta dan menandatangani perjanjian commitment fee sebelum pembangunan dimulai.

Baca juga  9 Tersangka Baru Kasus Korupsi Pertamina Terungkap, Termasuk Eks Pejabat dan Pengusaha Migas

“Awalnya kami percaya karena disebut bagian dari program resmi dan dikaitkan dengan lembaga negara. Tapi setelah berjalan, tidak ada kejelasan,” ujar salah satu perwakilan pengasuh pesantren.

Setelah proses administrasi, pihak DSN menunjuk kontraktor untuk membangun dapur dengan sistem pembayaran bertahap yang terlebih dahulu ditanggung pihak pesantren. Para kiai dijanjikan bahwa seluruh biaya pembangunan akan diganti setelah program berjalan.

Namun, hingga berbulan-bulan kemudian, janji tersebut tidak kunjung terealisasi. Dana yang telah dikeluarkan tidak kembali, sementara program dapur MBG juga tidak berjalan sebagaimana dijanjikan.

Kondisi semakin mencurigakan setelah kantor DSN diketahui berpindah lokasi dan para pengurusnya tidak dapat dihubungi. Hal ini memicu dugaan kuat bahwa program tersebut tidak memiliki kejelasan hukum maupun operasional sejak awal.

Baca juga  Bupati Indramayu Gandeng KPK Cegah Korupsi Terintegrasi

Salah satu pengasuh pesantren asal Cirebon, KH Ade Abdurrahman, mengaku mengalami kerugian besar hingga harus menjual aset pribadi.

“Saya pribadi sudah menjual mobil dan aset lainnya. Kami juga terdampak secara sosial karena masyarakat sempat berharap bisa bekerja di dapur MBG itu,” ujarnya.
Ketua LBH GP Ansor, Dendy Zuhairil Finsa, menegaskan pihaknya siap mengawal kasus ini hingga tuntas. Ia menilai persoalan ini tidak berdiri sendiri dan berpotensi meluas.

“Ini bukan sekadar kasus individual. Kami melihat ada pola yang sama dan berpotensi menimpa ratusan pesantren,” tegasnya.

Baca juga  769 PPPK Dilantik, Lucky Hakim: “Jangan Jadi ASN Biasa-Biasa Saja!”

Pertemuan yang digelar di kantor LBH GP Ansor di Jakarta Pusat turut dihadiri Sekretaris Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU, Ulun Nuha, yang menyampaikan keprihatinannya atas kasus tersebut.

“Kita akan melakukan pendekatan ke institusi terkait, namun upaya hukum terhadap pihak yang diduga bertanggung jawab tetap harus dilakukan,” ujarnya.

LBH Ansor membuka pengaduan bagi pesantren lain yang merasa menjadi korban hingga 7 Mei 2026 serta telah membentuk tim hukum untuk mengawal proses penanganan perkara ini.
Sementara itu, Koordinator Tim Hukum Korban, Afreindi Sikumbang,

mengungkapkan hasil penelusuran awal menunjukkan bahwa Koperasi Santri Nusantara tidak terdaftar di Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia.

“Artinya, dari sisi legalitas, koperasi ini tidak berbadan hukum. Ini menguatkan dugaan bahwa kasus ini merupakan penipuan dengan menggunakan badan usaha fiktif,” pungkasnya. (Moh.Ali)

Share :

Baca Juga

Terpopuler

Tanpa Seleksi dan SK, Perangkat Desa Singajaya Indramayu Ngantor 2 Bulan: Terima Gaji Bisa Dipidana

Terpopuler

Foto : Haul Akbar KH Bilal bin Ilyas Kepolo, Ribuan Umat Muslim Doa Bersama

Pendidikan

Temuan BPK Rp56 Miliar: Kepala Dinas Pendidikan Indramayu Tak Becus Kelola Dana BOS

Hukum

LBH Ghazanfar Laporkan Dugaan Etik Kanit PPA ke Propam: Satreskrim Gelar Perkara Khusus Aktifkan Kembali Perkara Anak Mangkrak 2 Tahun

Terpopuler

PSI Usung Ganjar Pranowo, PDIP Meradang: Hasto Ingatkan Etika Politik!

Terpopuler

Telusuri Jejak Kasus Suap Proyek, KPK Geledah Rumah Ono Surono di Indramayu

Terpopuler

Indonesia Segera Buka Kembali Penempatan Pekerja Migran ke Arab Saudi
Kolase foto: Para korban pembunuhan, Budi Awaludin (45), istrinya Euis Juwita (43), dua anak mereka berinisial RK (7) dan bayi B (8 bulan), serta ayah korban, H. Sahroni (76) (kiri) Polisi saat konferensi pers (kanan atas) Priyo Bagus Setiawan dan Ririn Rifanto kanan bawah)

Terpopuler

Polisi vs Ririn dan Priyo: Detik-detik Pembantaian Satu Keluarga di Paoman Indramayu