Home / Daerah / Terpopuler

Selasa, 14 April 2026 - 05:38 WIB

UU ITE Diduga Jadi Senjata Peras PKL di Kudus, Oknum Ormas Minta Rp30 Juta


Menanggapi laporan tersebut, Kapolsek Kota Kudus AKP Subkhan

Menanggapi laporan tersebut, Kapolsek Kota Kudus AKP Subkhan

Suaradeemayu.com – Dugaan praktik pemerasan berkedok hukum mencuat di Kabupaten Kudus. Oknum anggota organisasi masyarakat (ormas) diduga menjadikan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sebagai alat tekanan terhadap pedagang kaki lima (PKL) demi mengeruk keuntungan pribadi hingga puluhan juta rupiah.

Dikutip dedik.com kasus ini bermula dari beredarnya video viral yang memperlihatkan penarikan retribusi parkir sebesar Rp15 ribu di kawasan Jalan Sunan Muria, tepatnya di depan SMP 1 Kudus. Aksi tersebut direkam warga karena dinilai tidak memiliki dasar yang jelas dan tidak pernah disosialisasikan kepada para pedagang.

Baca juga  Viral! Kasus Bu Guru Cicih Habiskan Tabungan Murid Rp 343 Juta, Orang Tua Siap Geruduk Sekolah

Namun alih-alih menjadi bukti dugaan pungutan liar, rekaman video itu justru diduga dibalik menjadi alat ancaman. Oknum ormas tersebut disebut menggunakan dalih pelanggaran UU ITE untuk menekan para PKL agar menyerahkan sejumlah uang. Nilai yang diminta pun tidak main-main, mencapai Rp30 juta.

Fakta yang lebih mengejutkan, dua orang pedagang kaki lima mengaku telah menyerahkan uang dengan total mencapai Rp20 juta kepada terduga pelaku. Mereka mengaku terpaksa membayar karena takut terseret masalah hukum yang diancamkan.
Peristiwa ini sontak memicu reaksi publik.

Baca juga  Kapolri Tegas: Tak Ada Tempat untuk Premanisme, Masyarakat Harus Aman Siang dan Malam

Banyak pihak menilai tindakan tersebut sebagai bentuk penyalahgunaan hukum yang mencederai rasa keadilan masyarakat kecil, khususnya para pedagang yang menggantungkan hidup dari usaha harian.

Menanggapi laporan tersebut, Kapolsek Kota Kudus AKP Subkhan membenarkan bahwa pihaknya telah menerima pengaduan dari para korban. Ia menyebut para pelapor datang langsung ke kantor polisi dengan didampingi tokoh masyarakat setempat.
“Memang benar ada laporan. Para pengadu datang ke kantor kami diantar oleh tokoh warga,” ujar AKP Subkhan.

Lebih lanjut, pihak kepolisian mengaku telah mengantongi identitas terduga pelaku. Saat ini, proses penyelidikan tengah dilakukan secara intensif, termasuk mendalami hubungan antara video viral dengan dugaan praktik pemerasan tersebut.

Baca juga  Propam Polda Jabar Periksa Ayah Putri Apriyani, Toni RM Sebut Ada Oknum Polisi Terlibat

“Kami sudah mengantongi nama terduga. Nanti ditunggu saja perkembangannya,” tegasnya.

Polisi juga menegaskan bahwa penanganan perkara ini masih berada pada tahap konfirmasi dan pengumpulan keterangan dari sejumlah saksi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan duduk perkara secara utuh sebelum menentukan tindakan hukum lebih lanjut.

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa penegakan hukum tidak boleh disalahgunakan sebagai alat intimidasi. Aparat diminta bertindak tegas agar praktik serupa tidak kembali terjadi dan kepercayaan masyarakat terhadap hukum tetap terjaga. (Redaksi)

Share :

Baca Juga

Indramayu

Taliban Gelar Operasi Pembersihan, 2 Wanita Ditembak

Indramayu

LBH Ghazanfar Sebut Khotibul Umam Berpotensi Dijerat Pidana Berlapis, Cairkan Dapen Aman Yani

Indramayu

Kasus Pembunuhan Paoman Dianggap Belum Tuntas: H. Muhaemin Adukan Masih Ada Pelaku Lain ke Polres Indramayu

Indramayu

Diduga Jadi Tempat Esek-esek, Puluhan Emak-emak Geruduk Rumah Kos di Jatibarang Indramayu

Terpopuler

Sang Pemburu Koruptor Kini Jadi Tersangka Korupsi: Hukum Akhirnya Menampar Jabatan

Daerah

Advokat Toni RM Raih Penghargaan Tokoh Advokat Muda Inspiratif dari IJTI Cirebon Raya

Politik

Liburan Tanpa Izin & Keputusan Kontroversial: 3 Kepala Daerah Disanksi Kemendagri

Edukasi

Nikita Mirzani Ditahan Terkait Dugaan Pemerasan Rp 4 Miliar, Tetap Santai dan Lempar Senyum