Home / Terpopuler / Indramayu / Kriminalitas

Sabtu, 9 Mei 2026 - 03:50 WIB

Ririn Klaim Dipaksa Mengaku hingga Kakinya Patah, Polisi Tegaskan Tak Ada Penyiksaan

Kasat Reskrim Polres Indramayu, AKP Muchammad Arwin Bachar (kiri) terdakwa Ririn Rifanto (baju putih) memberikan pengakuan bahwa dipaksa mengaku oleh polisi

Kasat Reskrim Polres Indramayu, AKP Muchammad Arwin Bachar (kiri) terdakwa Ririn Rifanto (baju putih) memberikan pengakuan bahwa dipaksa mengaku oleh polisi

Suaradermayu.com — Polemik dalam sidang kasus pembunuhan satu keluarga di Kelurahan Paoman, Kabupaten Indramayu, kembali memanas. Terdakwa Ririn Rifanto mengklaim dirinya dipaksa mengaku hingga mengalami patah kaki, namun tudingan tersebut langsung dibantah oleh pihak Polres Indramayu.

Kasat Reskrim Polres Indramayu, AKP Muchammad Arwin Bachar menegaskan tidak ada tindakan penyiksaan maupun kekerasan fisik terhadap Ririn Rifanto dan Priyo Bagus Setiawan selama proses pemeriksaan berlangsung di Mapolres Indramayu.

“Tidak ada petugas yang mematahkan kaki tersangka pada saat pemeriksaan,” tegas Arwin, Kamis (7/5/2026).

Menurut Arwin, luka pada kaki kedua terdakwa terjadi saat proses penangkapan karena keduanya melakukan perlawanan dan berusaha melarikan diri ketika hendak diamankan petugas.

Polisi menjelaskan, setelah kasus pembunuhan satu keluarga di Paoman terjadi, Ririn dan Priyo sempat kabur selama sekitar satu minggu. Keduanya disebut berpindah-pindah dari Bogor, Semarang hingga Pasuruan sebelum akhirnya kembali ke wilayah Indramayu.

Baca juga  Pemprov Jabar Siapkan Rp5 Miliar untuk Pilwu Digital di 139 Desa Indramayu

Keduanya kemudian ditangkap di wilayah Kecamatan Kedokan Bunder pada Senin dini hari, 8 September 2025 sekitar pukul 03.00 WIB. Saat hendak diamankan, polisi menyebut kedua tersangka sempat mendorong petugas dan mencoba melarikan diri sehingga dilakukan tindakan tegas terukur.

“Kami melakukan tembakan peringatan dua kali terlebih dahulu, kemudian dilakukan tindakan pelumpuhan,” ujar Arwin.
Setelah dilumpuhkan, kedua tersangka langsung dibawa ke RSUD Indramayu untuk mendapatkan penanganan medis sebelum menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh penyidik Satreskrim Polres Indramayu.

Arwin juga menyebut selama proses pemeriksaan berlangsung, kedua terdakwa didampingi penasihat hukum mereka saat itu, yakni Ruslandi.

Meski demikian, pengakuan berbeda disampaikan Ririn Rifanto saat sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Indramayu, Rabu (29/4/2026).

Usai sidang ditutup majelis hakim, Ririn tiba-tiba berteriak di hadapan wartawan dan membantah dirinya sebagai pelaku pembunuhan sadis yang menewaskan lima orang di Jalan Siliwangi, Kelurahan Paoman.

Baca juga  Viral! TNI-Polri Memandikan Ibu Sakit, Bikin Haru

“Saya bukan pelaku pembunuhan, pelakunya Aman Yani, Hardi, Yoga sama Joko,” teriak Ririn sebelum akhirnya diamankan petugas keamanan karena suasana mulai ricuh.

Tak hanya membantah keterlibatan, Ririn juga mengklaim dirinya dipaksa mengakui perbuatan yang menurutnya tidak pernah dilakukan. Ia bahkan menuding mengalami kekerasan fisik saat proses pemeriksaan.

“Yang matahin kepolisian. Karena disuruh mengaku,” ucap Ririn sambil menunjukkan kondisi kakinya kepada awak media.
Suasana persidangan sendiri sempat berlangsung panas. Penasihat hukum terdakwa, Toni RM, terlibat perdebatan sengit dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terkait tidak dihadirkannya Priyo Bagus Setiawan dalam persidangan.

Menurut Toni RM, Priyo merupakan saksi penting yang mengetahui secara langsung peristiwa pembunuhan satu keluarga tersebut.

“Marahnya Ririn tadi juga karena sikap jaksa yang saya lihat ketakutan tidak mau menghadirkan saksi Priyo, padahal di berkas perkara Priyo itu saksi untuk Ririn,” ujar Toni RM kepada wartawan.
Toni bahkan menegaskan Priyo merupakan sosok yang mengetahui detail kejadian pembunuhan.

Baca juga  Membongkar Visi Misi Lucky-Syaefudin dengan Tagline 'REANG'

“Priyo itulah yang tahu pembunuhan, Priyo itulah yang menyaksikan pembunuhan,” tegasnya.

Sementara itu, pihak jaksa berdalih Priyo tidak dihadirkan karena bukan saksi mahkota maupun saksi kunci dari pihak penuntut umum. Jaksa juga mengacu pada ketentuan KUHAP bahwa terdakwa dengan berkas perkara terpisah tidak wajib dihadirkan dalam sidang terdakwa lain.

Kasus pembunuhan satu keluarga di Paoman hingga kini masih menjadi perhatian besar masyarakat Indramayu. Lima korban ditemukan tewas di dalam rumah mereka, yakni H Sahroni (75), Budi (45), Euis (40), RK (7), serta seorang bayi berusia 8 bulan.

Jenazah para korban ditemukan warga pada Senin, 1 September 2025 setelah tercium bau busuk menyengat dari dalam rumah korban. Sidang lanjutan perkara ini dijadwalkan kembali digelar pada Rabu (13/5/2026) dengan agenda pembuktian dari pihak terdakwa. (Red/Mashadi)

Share :

Baca Juga

Indramayu

Wisma Haji Indramayu Disiapkan Jadi Sekolah Rakyat, Bupati Lucky Hakim Dampingi Mensos Tinjau Lokasi

Indramayu

Toni RM Rilis Foto Aman Yani, Sosok yang Disebut-sebut Jadi Otak Pembunuhan Satu Keluarga di Indramayu

Indramayu

Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas di Rumah Kosong di Indramayu

Indramayu

Jaksa Sodorkan BB Palu & CCTV, Ruslandi Tak Sanggah! LBH Ghazanfar: Bumerang Maut Bagi Priyo

Indramayu

Pengakuan Mengejutkan! Terdakwa Kasus Pembunuhan Sekeluarga Mengaku Disiksa Saat Penyidikan di Polres Indramayu

Indramayu

Lempar KTA Wartawan, Oknum Bawaslu Indramayu Minta Maaf

Indramayu

Pemudik Tertinggal Bus di Rest Area Tol Cipali, Polisi Bantu hingga Dapat Tiket Baru

Daerah

Polres Subang OTT Oknum LSM Pemeras Kepala Desa, Puluhan Korban Terungkap