Suaradermayu.com – Kuwu terpilih Desa Singajaya, Khaerul Anam, kembali mendapat perhatian dari tokoh masyarakat setempat. Dedi Buldani, atau yang akrab disapa Bang Bul, mengingatkan agar langkah awal pemerintahan desa dimulai dengan kebijakan yang bijak, terutama dalam menentukan aparatur desa serta figur-figur yang akan dilibatkan dalam struktur pemerintahan.
Menurut Bang Bul, kemenangan Anam dalam Pilwu Singajaya tidak terjadi begitu saja. Di belakangnya ada kerja keras, perjuangan, dan pengorbanan banyak pihak—mulai dari relawan, tokoh masyarakat, hingga tim pendukung yang bekerja siang malam hingga tahap penetapan hasil.
“Kalau aparatur desa yang dipilih justru orang-orang yang tidak ikut berkeringat, sementara yang benar-benar berjuang malah ditinggalkan, tentu akan timbul rasa kecewa dan luka politik,” ujarnya dengan nada mengingatkan.
Ia menegaskan bahwa rasa kecewa tersebut bukan hal sepele. Jika tidak dikelola sejak awal, potensi ketidakpuasan itu dapat menghambat konsolidasi pemerintahan desa dan memunculkan gejolak di akar rumput.
“Jangan sampai harapan berubah menjadi penolakan. Ketika mereka merasa tidak dihargai, soliditas yang dulu terbangun bisa pudar dan berbalik arah. Itu akan mengganggu roda pemerintahan,” lanjutnya.
Menurutnya, euforia kemenangan tidak boleh membuat seorang pemimpin lupa pada jejak perjuangan.
Kemenangan Pilwu hanyalah gerbang awal yang akan diuji melalui keputusan-keputusan strategis pada awal masa jabatan.
“Seorang kuwu tidak hanya dituntut menjalankan administrasi, tetapi juga menjaga rasa keadilan sosial. Keputusan personal akan selalu dikenang dan menjadi catatan publik,” ungkapnya.
Bang Bul menyebut masyarakat Singajaya tengah menaruh harapan besar pada kepemimpinan Anam. Pemilihan aparatur desa nanti akan menjadi penanda awal arah kepemimpinan kuwu terpilih dan sekaligus ukuran komitmen moralnya terhadap para pendukung.
“Pilihan aparatur nanti akan dibaca publik sebagai komitmen dan keberpihakan. Kalau Anam menutup pintu bagi mereka yang telah berjuang, masyarakat akan menilai bahwa perjuangan kemarin sia-sia,” tegasnya.
Untuk itu, lanjutnya, Anam diharapkan bijak dalam memetakan figur-figur yang layak diberi amanah sesuai kontribusi dan loyalitasnya.
Menurut Bang Bul, stabilitas pemerintahan desa dimulai dari cara pemimpin merangkul dan menghormati orang-orang yang ikut bertaruh tenaga, waktu, bahkan materi dalam proses Pilwu.
“Kami percaya Anam lahir dari rahim perjuangan rakyat,” ucapnya.
“Karena itu, jangan sampai amanah ini justru menjauhkan beliau dari rakyat yang mengantarkannya menang,” imbuhnya.
Ia menambahkan, dukungan masyarakat tidak bersifat permanen. Jika pemimpin tidak sensitif terhadap aspirasi pendukungnya, bukan tidak mungkin dukungan itu berubah menjadi perlawanan moral.
“Semoga Kuwu Anam membuka telinga lebar-lebar terhadap suara para pendukung setia, agar pemerintahan desa berjalan stabil, solid, dan terhindar dari gejolak yang tidak perlu, jangan sampai terjadi senjata makan tuannya sendiri” pungkasnya.
Sementara itu, Suaradermayu.com mencoba meminta tanggapan dari Kuwu terpilih Desa Singajaya, Khaerul Anam, terkait pernyataan tersebut. Namun hingga berita ini diterbitkan, permintaan konfirmasi belum mendapat respons. (Abdul Goni)



























