Suaradermayu.com – Suasana duka menyelimuti sebuah rumah sederhana di Blok Bedug, Desa Segeran Kidul, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten ko Indramayu. Langit sore terasa lebih sunyi dari biasanya. Di rumah itu, keluarga besar Watirih masih berusaha menerima kenyataan pahit yang datang begitu tiba-tiba.
Watirih (40), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Indramayu, kini telah dimakamkan jauh dari tanah kelahirannya di Arab Saudi. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, tetapi juga menyisakan pertanyaan besar tentang tragedi yang menimpanya di negeri orang.
Bagi keluarga, Watirih bukan sekadar nama. Ia adalah seorang ibu tunggal yang selama ini berjuang keras demi masa depan anak semata wayangnya yang masih berusia 11 tahun.
Awal tahun 2022 menjadi titik awal perjalanan Watirih merantau ke Timur Tengah. Dengan tekad memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, ia memutuskan bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Arab Saudi.
Pada tahun pertama, komunikasi dengan keluarga masih berjalan lancar. Sesekali ia menelepon dari jauh, mengabarkan keadaannya dan mengirimkan uang untuk membantu kebutuhan anaknya di kampung halaman.
Namun seiring berjalannya waktu, kabar dari Watirih perlahan menghilang.
Memasuki tahun kedua, keluarga mulai diliputi kecemasan. Telepon tak lagi tersambung, pesan tak pernah berbalas. Hampir dua tahun lamanya keluarga hidup dalam ketidakpastian, menunggu kabar yang tak kunjung datang.
Hingga akhirnya, kabar yang datang justru menjadi mimpi buruk bagi keluarga.
Pada 15 Februari 2026, keluarga menerima informasi bahwa Watirih diduga meninggal dunia akibat kekerasan yang dialaminya pada 9 Februari 2026 di Arab Saudi.
Informasi awal yang diterima keluarga melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh menyebutkan kondisi Watirih saat ditemukan sangat memprihatinkan.
Tubuhnya dilaporkan mengalami sejumlah luka serius yang diduga akibat penganiayaan menggunakan senjata tajam. Bahkan wajah korban disebut mengalami kerusakan parah hingga sulit dikenali.
Luka keluarga semakin dalam ketika mengetahui bahwa jasad Watirih ditemukan di dekat tong sampah, di depan apartemen tempatnya bekerja.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di Arab Saudi pada 6 Maret 2026.
Bagi keluarga di Indramayu, kabar tersebut terasa seperti mimpi buruk yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Kini keluarga tidak hanya bergelut dengan duka, tetapi juga berjuang mencari keadilan.
Melalui kuasa hukum mereka, Toni RM, keluarga terus memantau perkembangan proses hukum yang sedang ditangani aparat di Arab Saudi.
Menurut Toni, pihaknya telah berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh untuk memastikan kasus tersebut diproses secara serius oleh kepolisian setempat.
“Prosesnya masih di kepolisian dan belum sampai ke kejaksaan,” ujarnya.
Ia menegaskan, jika benar kematian Watirih disebabkan oleh penganiayaan berat hingga menghilangkan nyawa, maka keluarga berharap pelaku mendapat hukuman setimpal sesuai hukum yang berlaku di Arab Saudi.
“Kalau itu penganiayaan yang menyebabkan kematian, keluarga meminta hukuman qisas, nyawa dibayar dengan nyawa,” tegasnya.
Di rumah duka, adik korban, Maghfuroh (29), tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Baginya, kematian kakaknya bukan hanya kehilangan anggota keluarga, tetapi juga kehilangan sosok ibu bagi seorang anak yang kini harus tumbuh tanpa pelukan ibunya.
“Kami hanya ingin keadilan. Nyawa dibayar nyawa,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kini yang tersisa hanyalah kenangan tentang seorang perempuan sederhana dari Indramayu yang berangkat ke negeri orang demi memperjuangkan masa depan anaknya.
Namun takdir berkata lain.
Watirih tak pernah kembali ke rumah yang selalu ia rindukan.
Di Segeran Kidul, doa terus dipanjatkan. Sementara keluarga hanya berharap satu hal yang paling mereka tunggu: keadilan bagi Watirih. (Pahmi)

























