Suaradermayu.com – Ancaman banjir kembali menghantui Kabupaten Indramayu. Di tengah intensitas hujan yang masih tinggi, sebanyak 23 titik tanggul sungai dilaporkan dalam kondisi kritis dan berpotensi jebol sewaktu-waktu. Kondisi ini menjadi peringatan dini banjir bagi wilayah-wilayah yang berada di sepanjang aliran sungai besar di Indramayu.
Baca Juga : Banjir Sungai Cimanuk di Indramayu Mulai Surut, BPBD Tetap Waspada
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Indramayu, puluhan titik tersebut merupakan sisa dari 45 titik tanggul rawan yang sebelumnya terpetakan. Hingga kini, lebih dari separuhnya belum tertangani secara menyeluruh.
Sebaran tanggul kritis itu mencakup Kecamatan Tukdana dengan tujuh titik, disusul Jatibarang lima titik. Sementara di Kecamatan Losarang, Sukagumiwang, dan Cikedung masing-masing terdapat dua titik.
Adapun satu titik tanggul kritis berada di Kecamatan Terisi, Lohbener, Sindang, dan Lelea—wilayah yang selama ini dikenal langganan banjir.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Indramayu, Warhadi, mengungkapkan bahwa titik-titik rawan tersebut berada di sepanjang Sungai Cimanuk, Sungai Cipanas, dan Sungai Cibuaya. Dari ketiga daerah aliran sungai (DAS) itu, DAS Cimanuk menjadi wilayah dengan risiko tertinggi.
“Dari total 45 titik tanggul rawan, masih ada 23 titik yang belum tertangani. Yang paling banyak berada di DAS Cimanuk,” kata Warhadi, Selasa (20/1/2026).
Baca Juga : Tragedi Sungai Cimanuk: Dua Mahasiswa Polindra Ditemukan Tewas Usai Hilang Saat Latihan Rafting
Ia menjelaskan, Sungai Cimanuk memiliki ambang batas debit sekitar 600 meter kubik per detik. Jika debit air melampaui batas tersebut, potensi banjir di Indramayu meningkat signifikan. Risiko itu kerap diperparah oleh banjir kiriman dari wilayah hulu, seperti Majalengka dan Sumedang.
“Kalau debit sudah melewati ambang batas, risikonya sangat besar. Apalagi ketika hujan turun merata di wilayah hulu dan hilir,” ujarnya.
BPBD menegaskan bahwa fokus lembaganya saat ini berada pada kesiapsiagaan bencana dan perlindungan masyarakat, mulai dari pemantauan kondisi sungai, kesiapan evakuasi, hingga penanganan darurat. Sementara itu, perbaikan fisik tanggul menjadi kewenangan instansi teknis, seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk–Cisanggarung.
Meski upaya perbaikan telah dilakukan sejak 2022, sejumlah titik masih membutuhkan penanganan lanjutan. Pendangkalan sungai, kerusakan daerah aliran sungai, serta tekanan debit air yang terus meningkat menjadi faktor utama yang memperbesar risiko jebolnya tanggul.
Baca Juga : Tolong! Rumah Warga Terancam, Tanggul Cimanuk Indramayu Ambles
Ancaman tersebut dirasakan langsung oleh warga bantaran sungai. Nuryadi, warga Desa Pangkalan, Kecamatan Losarang, mengaku banjir hampir menjadi kejadian rutin setiap kali hujan deras melanda wilayahnya.
“Kadang air sampai masuk rumah, kadang cuma di teras. Kalau ada kabar tanggul jebol, kami langsung waspada karena dampaknya cepat,” ungkapnya.
BPBD pun mengimbau masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sekitar sungai, untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta segera melapor apabila menemukan retakan, longsoran, atau kondisi tanggul yang dinilai membahayakan agar dapat segera ditangani.
Baca Juga : Delapan Desa di Indramayu Terendam Banjir Akibat Luapan Sungai Cimanuk
Dengan puluhan tanggul yang masih berstatus kritis dan cuaca yang belum bersahabat, Indramayu kini berada dalam fase siaga banjir. Tanpa percepatan penanganan tanggul dan pengendalian daerah aliran sungai, potensi banjir besar dinilai bukan lagi sekadar ancaman, melainkan tinggal menunggu waktu. (Mashadi)

























