Suaradermayu.com — Air mata menjadi saksi betapa beratnya perjuangan para pendidik di Kabupaten Indramayu. Perwakilan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tak kuasa menahan emosi saat duduk berhadapan dengan Komisi II DPRD Indramayu dalam audiensi yang digelar Selasa pekan lalu.
Mereka datang bukan menuntut kemewahan, melainkan memohon agar hak yang seharusnya sudah diterima sejak lama segera sampai ke tangan.
Umyati, Ketua Himpaudi Kabupaten Indramayu, menyampaikan keresahan mendalam ini kepada awak media, Jumat (9/10/2026). “Kami tidak meminta yang tidak-hak kami. Kami hanya ingin insentif itu dicairkan,” ucapnya lirih namun tegas.
Sekitar 2.000 guru PAUD di seluruh Kabupaten Indramayu terdampak penundaan ini. Total anggaran yang tertahan mencapai Rp 3,1 miliar. Berbagai pintu sudah diketuk — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Inspektorat, hingga wakil rakyat di DPRD — namun belum ada kepastian kapan dana itu akan turun.
Kini kesabaran memiliki batas waktu: 10 Oktober 2026. Jika hingga tanggal tersebut belum ada iktikad baik dari Pemerintah Daerah, ribuan guru berjanji akan turun ke jalan. Tiga titik strategis akan menjadi pusat aksi damai: Kantor Bupati Indramayu, Gedung DPRD Indramayu, dan Kantor Dinas Pendidikan setempat.
Bagi para pendidik kecil ini, insentif bukan sekadar angka di atas kertas. Itu adalah bentuk apresiasi atas pengabdian mereka menemani anak-anak di usia emas pertumbuhan. Jika pengakuan sederhana ini terus ditunda, maka jalan damai di depan kantor pemerintah menjadi satu-satunya suara yang tersisa untuk didengarkan.


























