Home / Edukasi

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:23 WIB

Hari Santri 2026, Abah Ibing : Peran Santri untuk Negara Menuju Indonesia Emas

Suaradermayu.com — Menuju fajar Indonesia Emas 2045, peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang jatuh pada 22 Oktober 2026 di Desa Singaraja, Indramayu, bukan lagi sekadar ritual tahunan yang berlalu tanpa makna. Lembaran sejarah baru sedang ditulis dari wilayah pesisir Jawa Barat ini.

Hari besar ini hadir sebagai lonceng pengingat yang mahapenting bagi masa depan seluruh anak bangsa.

Di tengah pusaran zaman digital yang serba cepat serta hantaman ombak perubahan moral yang kian dahsyat, kehadiran jiwa santri bukan lagi sekadar pelengkap ornamen sosial.

Mereka adalah tiang utama, jangkar spiritual, sekaligus benteng pertahanan terakhir yang berdiri tegak mengawal kedaulatan, martabat, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Melalui kedalaman rasa dan pemikiran Abah Ibing, momentum peringatan ini ditarik ke permukaan sebagai ruang perenungan bersama bagi setiap lapisan masyarakat.

Abah Ibing adalah pimpinan Majelis Kandang Macan di Desa Singaraja, Indramayu. Di tangan dia, pesan kebangsaan tidak disampaikan dengan doktrin yang kaku, melainkan lewat pendekatan hati yang menyentuh sanubari terdalam.

Bagi masyarakat setempat, ajaran yang digaungkan di Majelis Kandang Macan menjadi mata air yang menyegarkan dahaga spiritual di tengah gersangnya nilai-nilai ketulusan zaman sekarang.

Menurut pandangan Abah Ibing, jalinan antara ajaran suci agama Islam, jiwa kesantrian, dan rasa cinta tanah air adalah satu kesatuan utuh yang tidak boleh dicerai-beraikan oleh kepentingan apa pun.

Dia menjabarkan dengan penuh penekanan bahwa agama adalah kompas batin yang menunjukkan arah kebenaran, sedangkan jiwa santri adalah motor penggerak utama yang menghidupkan raga untuk bergerak membawa kemaslahatan bagi negara. Menjadi santri bukanlah urusan identitas fisik semata, bukan sebatas seberapa sering seseorang mengenakan kain sarung, memutar tasbih, atau memakai peci hitam.

Lebih dalam dari simbol-simbol luar tersebut, kesantrian adalah sebuah laku hidup, sepotong karakter luhur yang memancarkan esensi Islam yang damai, adil, sejuk, dan menjadi rahmat bagi sekalian alam.

“Agama itu kompasnya, lalu jiwa santri yang menggerakkan raga kita untuk berbuat baik pada negara. Jadi, santri itu bukan soal pakaiannya, tapi soal bagaimana hatinya menjaga kedamaian di masyarakat,” ujar Abah Ibing sambil tersenyum hangat saat ditemui di sela-sela waktu luangnya di Desa Singaraja.

Kalimat sederhana itu meluncur tulus, membawa beban makna yang begitu berat tentang bagaimana seorang hamba seharusnya menempatkan diri di tengah masyarakat dan negaranya.

Melalui fondasi kokoh yang dibangun di Majelis Kandang Macan Singaraja, Abah Ibing tanpa lelah selalu menanamkan pemahaman bahwa taat beragama yang sejati harus berbanding lurus dengan kepedulian yang tinggi terhadap nasib bangsa.

Jiwa santri masa kini dituntut untuk memiliki keteguhan prinsip yang sangat kuat, laksana seekor macan yang berani berdiri di garda terdepan dalam membela kebenaran dan keadilan agama.

Namun di saat yang bersamaan, kekuatan besar itu harus dibalut dengan kelembutan hati, sifat rendah hati, penuh welas asih, serta ketawadukan yang mendalam kepada sesama manusia.

Perpaduan harmonis antara kedalaman ilmu spiritual dan ketahanan mental inilah yang menjadi modal utama bagi seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga martabat bangsa ini dari kehancuran.

Sejalan dengan tema besar nasional yang diusung tahun ini, yaitu “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, tugas dan ladang perjuangan kaum santri kini telah mengalami pergeseran bentuk yang sangat mendasar.

Jika pada masa lampau para kiai dan santri mengangkat senjata, mengorbankan darah dan nyawa demi mengusir penjajah fisik, maka di era kontemporer ini musuh yang dihadapi jauh lebih samar namun sangat mematikan.

Abah Ibing dengan nada prihatin mengingatkan bahwa ancaman terbesar bangsa Indonesia saat ini adalah terjadinya pengeroposan moral, hilangnya rasa hormat, serta lunturnya nilai kejujuran di kalangan generasi muda akibat paparan tanpa filter dari budaya luar yang merusak.

“Dulu musuh kita kelihatan wujudnya, sekarang musuhnya tidak kelihatan karena menyerang akhlak anak-anak muda lewat hal-hal negatif di sekitar kita. Di sinilah santri harus berdiri paling depan untuk menjaga moral itu,” kata dia menambahkan, menegaskan betapa krusialnya benteng pertahanan moral di tingkat keluarga dan lingkungan terkecil.

Dalam memperkuat argumentasi filosofis ini, terdapat landasan kaidah ushul fiqih yang sangat masyhur dalam khazanah keislaman, yang berbunyi: Tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil mashlahah. Artinya, kebijakan seorang pemimpin atau tindakan demi kemaslahatan rakyat harus selalu berorientasi pada kebaikan bersama.

Kaidah ini menjadi ruh bagi peran santri untuk negara. Gerakan menguatkan negeri yang digaungkan dari pesisir Indramayu ini sejatinya adalah manifestasi nyata dari upaya menciptakan kemaslahatan publik tersebut, dengan cara mencetak manusia-manusia yang bersih hatinya dan lurus perbuatannya.

Di sinilah santri mengambil peran yang tidak tergantikan sebagai penjaga moral dan nurani bangsa. Ketika arus individualisme mulai mengikis semangat gotong royong yang menjadi urat nadi nusantara, ketika sifat egois perlahan merusak tatanan sosial, jiwa kesantrian harus hadir sebagai penawar rasa sakit tersebut.

Bagi seluruh warga di Desa Singaraja, Indramayu, pesan Hari Santri 2026 membawa amanat yang sangat terang.

“Semoga para santri selalu istiqamah dalam menuntut ilmu, menjaga akhlak, dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan sekadar rangkaian kata tanpa makna, melainkan sebuah ikrar bersama bahwa membela negara di masa kini berarti memastikan setiap jengkal tanah Indonesia dihuni oleh jiwa-jiwa yang memiliki rasa takut kepada Tuhan, sekaligus menyimpan cinta yang tulus dan mengakar pada tanah airnya sendiri,” tutur Abah Ibing

Menurutnya prinsip cinta tanah air ini pun sangat sejalan dengan nilai luhur hubbul wathan minal iman — cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Sebuah ungkapan mendalam yang terus hidup dalam sanubari masyarakat santri di Indonesia. Bagi Abah Ibing, mustahil seseorang dapat menjalankan syariat agamanya dengan tenang dan damai jika negaranya berada dalam kondisi kacau atau hancur.

Oleh karena itu, menjaga kedamaian dan kemajuan Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah itu sendiri.

Menuju pintu gerbang Indonesia Emas, lompatan kemajuan teknologi dan transformasi digital yang melanda dunia saat ini diibaratkan laksana pisau bermata dua.

Jika teknologi diadopsi tanpa adanya panduan moral agama yang kuat, ia hanya akan melahirkan kehampaan jiwa, meningkatkan angka kriminalitas digital, dan menghancurkan tatanan sosial yang sudah lama dirawat.

Oleh karena itu, warisan nilai agama dan ketahanan jiwa kesantrian yang terus ditanamkan oleh Abah Ibing menjadi jawaban yang sangat relevan atas tantangan zaman ini.

Santri di Majelis Kandang Macan tidak pernah dididik untuk menjauhi kemajuan atau menjadi gagap teknologi, melainkan mereka ditempa untuk mampu menggenggam dunia dan menguasai teknologi modern, dengan tetap menjadikan akhlak mulia sebagai kemudi utamanya.

“Kita tidak boleh gaptek, teknologi harus dikuasai. Tapi ingat, kuasai teknologi dengan tanganmu, dan biarkan akhlak mulia yang mengendalikan hatimu,” tutur Abah Ibing dengan penuh penekanan.

Pesan visioner ini mengisyaratkan bahwa kecerdasan intelektual harus selalu berjalan beriringan dengan kesucian hati agar tidak melahirkan kehancuran baru bagi kemanusiaan.

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Desa Singaraja akhirnya memberikan sebuah kompas dan arah berpikir yang sangat jernih bagi seluruh masyarakat Indramayu.

Sebuah kesadaran kolektif telah lahir: jalan lurus untuk menjemput visi Indonesia Emas yang maju, makmur, adil, dan sejahtera, wajib dimulai dari titik terendah namun paling mendasar — memperkuat fondasi keagamaan, memperbaiki akhlak, dan mengokohkan karakter luhur para generasi penerusnya.

Dari tanah pesisir Singaraja Indrmaayu, yang sarat sejarah perjuangan, getaran semangat ini terus memancar kuat ke seluruh penjuru negeri, menjadi bukti nyata bahwa santri senantiasa siap berdiri tegak di barisan paling depan untuk menjaga, mengabdi, dan mengantarkan ibu pertiwi menuju puncak kejayaannya yang hakiki.

Share :

Baca Juga

Edukasi

Polisi Ungkap Modus Penyalahgunaan Barcode BBM Subsidi, Pelaku Raup Rp 4,4 Miliar

Edukasi

Tiga Pengedar Ganja di Indramayu Ditangkap, Polisi Amankan 582 Gram Barang Bukti

Edukasi

Polisi Ringkus Pengedar Pil Koplo di Indramayu

Edukasi

Bongkar Korupsi! Kejari Indramayu Kembalikan Rp2,6 Miliar ke Kas Negara, Ini Sumber Uangnya

Edukasi

MUI Indramayu Keluarkan Fatwa Resmi: Ajaran “Islam 4S” Desi di Kroya Dinyatakan Menyimpang, Polisi Diminta Bertindak

Edukasi

Kejari Indramayu Selamatkan Keuangan Negara Rp 1,8 Triliun Sepanjang 2024

Edukasi

Polsek Balongan Gelar Patroli Skala Besar, Amankan Dua Pria Diduga Transaksi Narkoba
Foto : Tiga pelaku perdagangan orang ditangkap Polres Indramayu

Edukasi

Polres Indramayu Tangkap 3 Pelaku Perdagangan TKW ke Timur Tengah